Feeds:
Posts
Comments

Tuhan pasti iseng atau lagi kurang kerjaan
Tapi sungguh Ia membuatku berkaca-kaca menyaksikan karya-Nya
Semua lekuk, semua keindahan, semua ketakjuban
Bagaimana mungkin Ia sempat memikirkan semuanya itu
Hingga aku tak dapat berkata-kata
Ia menunjukkan betapa Ia serius mendandani seluruh ciptaan
Betapa Ia mencintai yang Ia buat
Membuatku merasa begitu kecil ditengah kebesaran-Nya
Dan tak lagi ingin aku merusak alam-Nya dengan pintarku yang dungu


Juni 2009
Lebih dekat menyaksikan NTT

Karena bekerja adalah beribadah dan dalam beribadah kita mengerjakan yang terbaik dari diri kita untuk memuliakan Tuhan.

Jangan salahkan hati bila merasa sedih
Mungkin kau tidak sedang meragukan Tuhan
Kau hanya terlalu percaya kepada-Nya
Dan bertanya kenapa Ia tak segera menolongmu

Jangan salahkan Tuhan bila kau rasa tak ada
Mungkin kau hanya tak sanggup menjangkau-Nya dengan pikirmu
Ia terlalu besar untuk kau yang terlalu kecil
Dan hadir-Nya yang selalu, tak mampu kau maknai

Jangan salahkan airmata bila mengalir di pipi
Mungkin demikianlah cara Tuhan membentukmu
Bukan karena Ia tak rindu akan senyum yang menghias wajahmu
Ia hanya terlalu menyayangimu


Jakarta, Mei 2009
‘karena ku tahu siapa yang pegang masa lalu, kini dan nanti’

Grow Old with Jesus

Kamis, 9 April 2009.
Hari ini warga negara Indonesia merayakan pesta demokrasi dengan melakukan pemilihan umum untuk memilih wakil rakyat. Aku juga menggunakan hak pilihku, bukan sekadar ingin menjadi warga negara yang baik tetapi karena aku pun harus berpartisipasi mengusahakan kesejahteraan negeri dimana Tuhan ijinkan aku ada.

Hari ini, umat Kristiani menghayati malam passion atau Kamis Putih dalam rangkaian Pekan Suci Paska 2009. Aku juga ada di sana, dalam senyapku memaknai pergumulan demi pergumulan yang Tuhan ijinkan aku alami. Aku ingin berbisik pada Tuhan, “Ini aku! Aku ada di sini!”, tapi rasanya aku malu. Apakah hadirku bisa mengisi ruang hati Tuhan di Getsemani ini? Tuhan itu kadang terasa begitu dekat, tetapi kadang begitu jauh. Bila pun Ia dekat, aku hanya berani menatap-Nya dari jauh.. karena sungguh pun demikian, hatiku bahagia karena ku tahu Ia ada.

Hari ini, ulangtahunku. Rasanya sulit menggambarkan berbagai hal yang berkecamuk di ruang hati ini. Aku sendiri takut untuk meniliknya satu per satu, takut menyadari betapa terpuruknya aku di tahun-tahun belakangan ini. Berbagai mimpi dan harapan sudah kurelakan untuk tak mewujud, mungkin itu bagian dari penyangkalan diri, sekalipun sungguh berat kurasa. Namun bila tahun ini boleh Tuhan beri untuk kutapaki, yang dapat kulakukan hanyalah bersyukur karena ku tahu tanpa Tuhan tak mungkin aku sampai di sini.

Hari ini, aku berusaha jujur pada Tuhan. Aku tak mampu menyenangkan hati-Nya. Setiap kali aku berusaha dan gagal, aku merasa hancur. Tetapi sekalipun aku harus berkali-kali hancur, aku mau terus berusaha untuk memberi yang terbaik dariku untuk Tuhan. Karena aku tahu, Tuhanku tidak akan menolak aku. Karena aku tahu, mencintai-Nya adalah hal terindah dalam hidupku. Seberat apapun kehidupan yang telah, sedang ataupun akan kujalani, akan kujalani bersama Tuhanku.

When am not here

Bila aku tak lagi disini
Maukah kau kumpulkan setiap noktah
Jadikan kisah tentang bahagiaku
Jalani hidup bersama Tuhanku


Jakarta, 080507
(waktu ku sadar aku melemah)

JIKA

Jika aku, dan bukan Kristus
Yang terpancang di kayu laknat itu
Tetap tak lunas hutang dosaku
Dan tak berselamat jiwaku


from ‘VIA DOLOROSA’

Goretan

Bila garis kami harus berhenti
Saat kami ingin mengurainya panjang
Ajar tangan rela meletakkan pena
Kembalikan lembaran pada Hyang Milik
Goretan kami adalah doa
Dilafaskan seumur hidup

Semarang, 4 April 2009

Via Dolorosa

Tidak ada jalan kembali
Golgota menanti di ujung sana
Wangi kematian menyeruakkan pekik membahana
“Salibkan Dia! Salibkan Dia!”

Teringat kebersamaan di meja makan itu
Teringat ciuman manis di taman itu
Teringat penyangkalan di subuh itu
Teringat lambaian palma di gerbang Yerusalem

Tidak ada jalan kembali
Hanya salib menekan berat
Hanya sesah dan hujat menyobek hati
“Salibkan Dia! Salibkan Dia!”

Tertatih-tatih dalam pedih perih
Dalam duka dan luka yang semakin dalam
Lebih pahit dari anggur bercampur empedu itu
Yang coba menyayat sebongkah cinta di hati

Tidak ada jalan kembali
Tetes keringat, darah dan airmata berbaur
Debu menghempas, kaki lunglai terjungkal
“Salibkan Dia! Salibkan Dia”

Sesah tak sisakan jeda ‘tuk sekedar mendesah
Sementara bayang-bayang Kalvari kian nyata
Aroma kematian semakin menyeruak tajam
Golgota bukit tengkorak

Tak ada jalan kembali
Salib yang Kau pikul sudah ditancapkan
“Inilah Raja Orang Yahudi”
“Salibkan Dia! Salibkan Dia!”

Tok!! Tok!! Tok!! Tok!!
Kau dengarkah?
Suara paku menancap di kedua tangan-Nya?
Dan darah segar yang mengucur dari sana?

Tok!! Tok!! Tok!! Tok!!
Kau dengarkah?
Suara paku menancap di kedua kaki-Nya?
Dan darah segar yang mengucur dari sana?

Dan kau dengarkah pinta-Nya?
“Ya Bapa, ampunilah mereka karena mereka tidak tahu
apa yang mereka perbuat!”
Dan kau rasakah cinta-Nya?

Lalu gelap.
Yesus mati.
Tabir Bait Suci terbelah dua dari atas sampai ke bawah
Gempa bumi dan bukit-bukit batu terbelah
Kuburan terbuka

Maut tak sanggup menahan kuasa-Nya
Satu penyesalan terucap:
“Sungguh, Ia ini adalah Anak Allah”

Via Dolorosa
Berhiaskan cerca cela dan amis darah
Di ujungnya menanti kematian
Yang disambut dengan tangan terentang

Via Dolorosa
Ada cinta yang tak terbalas
Darah dan air mengalir dari lambung yang terluka
Cinta mencari dan menemukan jalannya

Via Dolorosa
Karena Yesus yang tersalib disana
Jalan kematian itu diubahkan menjadi jalan kehidupan
Kau pun disambut dengan tangan terentang

Via Dolorosa
Dalam derita-Mu kulihat cinta
Maut Kau kalahkan untukku
Kini aku punya jalan kembali

Paska 2008

Terluka

Tuhan…
Ketika ‘ku terluka, tolonglah aku
Agar lukaku tidak menjadi alasan
Melukai hati sesamaku
Atau melukai diriku sendiri

Tuhan…
Ketika aku terluka, tolonglah aku
Agar lukaku tidak menjadi alasan
Menutup mata atas limpahan kasih-Mu yang besar
Untuk diriku dan sesama melalui aku

Tuhan…
Ketika aku terluka, tolonglah aku
Menghitung jejas luka yang kutorehkan dihati-Mu
Dan pada hati terluka nan penuh cinta itu
Kupercayakan lukaku untuk disembuhkan

Jakarta, 1 Maret 2009

Ini Aku

Tuhan, ini aku
Tak sanggup ‘ku tengadah pada-Mu
Kakiku gemetar, hatiku bergetar
O betapa nista adaku

Tuhan, ini aku
Hatiku menuduhkan dosa
Berat, perih, remukkan aku
O betapa ‘ku menjauh dari-Mu

Tuhan, ini aku
Sungguh lemah dan tak berdaya
Jiwaku menangis dalam kelu dan malu
O betapa ‘ku butuh Engkau

Tuhan, ini aku
Dalam derita-Mu kulihat cinta
Ingat ‘kan aku orang berdosa ini
O Tuhan, betapa tak layak ‘ku Kau cinta!
akhir 2008

__________

Diambil dari “VIA DOLOROSA – Kumpulan Permenungan dan Puisi Paska”. Bagian ini terinspirasi dari momen Rabu Abu. Rabu Abu dalam tahun liturgi menandai umat kristiani memasuki minggu-minggu pra paskah, penghayatan penyesalan akan dosa dan betapa kita membutuhkan Kristus. Semoga kita tidak berakhir sebagai abu, tetapi pada hari-Nya hidup bersama sang Pemenang! Selamat Rabu Abu!

Older Posts »