Feeds:
Posts
Comments

Terkadang kita merasa kuatir tentang banyak sekali hal. Hal-hal yang besar, ataupun hal-hal kecil yang kelihatannya sepele. Kadang bahkan kita merasa kuatir jangan-jangan kita lupa menguatirkan sesuatu.

Kekuatiran tentu saja dapat berakibat buruk ketika ia merebut ruang pengharapan kita, tetapi kekuatiran dapat juga merupakan sebuah hal yang baik untuk mengingatkan kita bahwa kita begitu rentan sehingga kita memerlukan orang lain dan juga memerlukan Tuhan.

Sudah banyak cerita tentang kekuatiran manusia terhadap masalah-masalah yang dihadapi, dan hal tersebut tidak ingin kuuraikan disini. Semua orang punya kisah kekuatirannya. Aku hanya ingin menceritakan kisah tentang seseorang yang tidak menguatirkan masalahnya melebihi kekuatirannya pada Tuhan. Sesungguhnya ia adalah orang yang begitu mencintai Tuhan, namun perjalanan hidupnya banyak diwarnai dengan airmata kesedihan dan kekecewaan.

Walaupun demikian, ia tidak pernah meragukan Tuhan. Ia justru begitu perhatian dengan berbagai hal yang terjadi disekitarnya bahkan dalam doanya ia selalu berkata, “Tuhan, ada begitu banyak orang yang sedang menderita, ada begitu banyak orang yang mengharapkan-Mu untuk segera menolongnya sekarang. Tuhan aku tidak memiliki apapun untuk membantu orang-orang itu, aku hanya punya doa dan seandainya ada yang boleh kuberikan maka biarlah aku memberi kesempatan agar Engkau menjawab doa-doa mereka terlebih dahulu. Aku masih bisa menunggu untuk setiap jawaban doaku. Tidak apa-apa, Tuhan, aku masih bisa menunggu karena aku yakin akan pemeliharaan-Mu”.

Menurutku, orang ini hebat sekali. Ia lebih mengutamakan orang lain dibanding dirinya sendiri padahal betapa banyak diantara kita yang selalu menuntut Tuhan bersegera menjawab doa kita?Aku jadi teringat cerita lainnya tentang seorang anak kecil yang bingung bagaimana Tuhan bisa menjawab semua doa yang dipanjatkan?

Memang baik bagi kita untuk tidak ‘ngerusuhin’ Tuhan dengan doa-doa kita, memang baik bagi kita untuk juga memperhatikan pergumulan orang-orang disekitar kita serta mendoakan mereka, tetapi janganlah kuatir untuk membawa kekuatiranmu kepada Tuhan. Ia tidak pernah sedemikian sibuk sehingga tidak memiliki waktu untuk mendengarkanmu. Bahkan seandainya semua waktu di dunia ini engkau gunakan untuk berbicara pada-Nya, Ia pun tidak pernah terlalu sibuk untuk mendengarkanmu.

Ketika kita sedang senang, Tuhan punya waktu untuk berbagi sukacita itu. Ketika kita sedih, Tuhan punya waktu untuk memberikan penguatan dan penghiburan. Ketika kita kuatir, Tuhan punya waktu untuk menenangkan dan menunjukan pengharapan. Ketika kita sibuk, Tuhan punya waktu untuk menyapa kita. Ketika kita sedang santai, Tuhan pun ingin berbagi sapaan hangat melalui ciptaan-Nya.

Aku sedang melewati hari yang tidak menyenangkan ketika tulisan ini dibuat, namun entah bagaimana kata-kata itu masuk kedalam pikiranku, “Aku sedang tidak terlalu sibuk…. Aku bisa dan mau mendengarkanmu..” Hmmm.. hebat! Betapa bahagianya mengetahui bahwa dalam situasi apa saja, Tuhan selalu memiliki banyak waktu untuk kita. Walaupun langit tidak selalu cerah, tetapi Ia yang menciptakan langit itu selalu tahu bahwa aku akan aman dalam lindungan-Nya.

Terima kasih, Tuhan, untuk waktu-Mu ^^

Jakarta, Januari 2010

Maaf bila menguatirkan-Mu..

MENGAWALI DENGAN TUHAN

Dengan apakah seorang muda mempertahankan kelakuannya bersih?
Dengan menjaganya sesuai dengan firman-Mu.
Dengan segenap hatiku aku mencari Engkau,
janganlah biarkan aku menyimpang dari perintah-perintah-Mu.
Dalam hatiku aku menyimpan janji-Mu,
supaya aku jangan berdosa terhadap Engkau.
(Mazmur 119:9-11)

Tahun Baru dalam hitungan waktu tidak lebih dari sebuah kronos. Satu tahun setelah tahun baru sebelumnya, sekian hari, sekian jam, sekian menit, sekian detik, dst hingga ada perubahan pada tulisan angka di kalender kita. Tahun Baru mungkin pula tidak lebih dari sebuah koma, sebuah jeda untuk mengingatkan kita akan hari-hari hidup yang telah berlalu. Tetapi ada satu hal yang kusukai tentang Tahun Baru ataupun hari-hari spesial lainnya dalam kehidupan umat manusia, yaitu bahwa ada momen yang dipakai untuk sekadar mengharapkan yang terbaik dari diri sendiri dan pun mendoakan yang terbaik dalam diri orang lain.

Tentu saja, selain membunyikan terompet tahun baru, sebagian besar orang sibuk membuat resolusi. Sebuah pernyataan ‘keinginan menjadi’ di tahun yang baru. Menjadi apa? Tergantung pribadi yang membuat resolusi. Yang jelas, pasti menjadi seseorang yang lebih baik dan melakukan hal yang lebih baik menurut apa yang dipikirnya baik. Namun konon, semangat dan upaya merealisasikan ‘keinginan menjadi’ tersebut hanya bertahan beberapa minggu setelah itu lenyap tak berbekas. Hanya sedikit orang yang berhasil mempertahankan pijar semangat menjadi lebih baik di tahun yang baru bahkan hingga tahun tersebut berganti.

Bagaimana dengan resolusi pemuda Kristen? Bukankah pemuda Kristen juga ingin menjadi seseorang yang lebih baik lagi tahun ini? Menjadi seseorang yang semakin menyerupai Junjungan-nya? Seperti Kristus! Ya, Kristus! Apapun yang ingin dilakukan seorang pemuda Kristen sudah seharusnya semakin menampakkan citra Kristus di dalam dirinya, bukan? Dalam hal ini membuat pernyataan saja belum merupakan suatu sikap iman, tetapi mempertahankannya dalam menjalani kehidupanlah yang merupakan sikap iman. Tidak gampang, tetapi yang pasti tidak mustahil. Jangan memberikan terlalu banyak excuse pada diri sendiri hanya karena kita masih muda dan memiliki banyak kekurangan. Alkitab dengan gamblang memberikan petunjuknya dalam Mazmur 119:9, Dengan apakah seorang muda dapat mempertahankan kelakuannya bersih? Dengan menjaganya sesuai dengan Firman-Nya.

Pesannya jelas, back to Bible! Apapun keinginan kita untuk menjadi seseorang yang lebih baik di tahun ini, biarlah kita letakkan dan jaga dalam terang Firman Tuhan. Bukan sekadar rajin membaca Alkitab saja, tetapi mencari dan menemukan Allah lewat kesediaan untuk dibentuk berdasarkan Firman Tuhan karena segala tulisan yang diilhamkan Allah sebagaimana ditulis dalam 2 Tim 3:16-17, ‘… memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran. Dengan demikian tiap-tiap manusia kepunyaan Allah diperlengkapi untuk setiap perbuatan baik’. Firman Tuhan menjadi semacam indikator yang mengarahkan langkah kehidupan kita bersesuaian dengan kehendak Allah atas diri kita.

Kita menginginkan sesuatu yang baik bagi diri kita. Allah menginginkan yang jauh lebih baik sebagaimana Ia menciptakan kita sungguh sangat baik. Betapa dunia ini merindukan dan membutuhkan generasi muda Kristen yang mencintai Firman Tuhan dan menghadirkan kerajaan Allah. Setiap waktu yang diperkenankan Tuhan untuk kita jalani (kronos) biarlah menjadi momentum (kairos) untuk menyatakan kasih Tuhan. Mari menjadi lebih baik di tahun ini, mari kembali pada kecintaan akan kebenaran Firman Tuhan, sehingga baik dalam kehidupan kita sehari-hari di keluarga, di sekolah/kantor, di gereja, di masyarakat dan dimana saja Tuhan dimuliakan melalui kehadiran kita.

Mari mengawali dan mengawal tahun 2010 dengan Firman Tuhan… jadilah berkat!

Blessings,

Sicillia

http://creativege.wordpress.com

George Sicillia wish you a very Merry Christmas ^^

Pohon Natal Terindah

Pohon Natal itu tidak indah sebetulnya.Hanya sebuah cemara kecil yang batangnya pun tidak tegak lurus berdiri.Tetapi karena diberikan oleh hati yang indah, ia menjadi pohon Natal terindah untukku.


DELAPAN tahun yang lalu, aku bekerja di daerah Kalimantan Timur. Tempat kerjaku tidak begitu ramai, sebagian besar pekerjanya adalah pria, dan yang merayakan Natal sangat sedikit jumlahnya. Itupun hampir semuanya mengambil cuti di hari Natal. Karena belum setahun bekerja, aku tidak bisa mengambil cuti tetapi aku ingin sekali merayakan Natal dan menghadirkan suasana Natal di mess.

Mess-ku tidak terlalu besar, ditempati oleh 4 staf perempuan tetapi salah satunya sedang bertugas di Kalimantan Tengah. Jadi kami hanya bertiga dan hanya aku yang Kristen.

Walaupun berbeda agama, kami semua belajar untuk saling menghargai dan saling mengingatkan untuk menjalankan ibadahnya masing-masing. Berada di tempat yang jauh dan sepi membuat ikatan persaudaraan kami begitu terasa. Bukan cuma aku dan rekan-rekan se-mess, tetapi juga dengan rekan-rekan kerjaku yang lain. Karena lingkup kerja dan lingkup tempat kami tinggal adalah tempat yang sama, maka kesenangan dan kesusahan satu orang bisa menjadi kesenangan dan kesusahan bersama.

I’ll not be home for Christmas

Teman satu mess-ku adalah Yanti, seorang dokter hewan dan satu lagi namanya Aida, yang mahir dengan urusan database dan piranti lunak komputer.

Menjelang Desember, mereka sudah tahu bahwa aku begitu ingin merayakan Natal dan menghadirkan suasana Natal. Tetapi keluargaku jauh, jadi aku tidak mungkin pulang untuk Natal. Gereja pun letaknya sangat jauh dan kendaraan umum hanya sampai jam delapan malam, tidak ada taksi, jadi aku tidak mungkin mengikuti kebaktian malam Natal.

Yanti dan Aida bukan beragama Kristen, tetapi mereka mengerti akan kerinduanku. Aku tidak akan melupakan kebaikan hati mereka mengijinkanku memajang hiasan Natal dan kartu-kartu di depan kamar mereka dan di seluruh tempat di mess kami. Aida yang tidak menyukai musik-musik klasik dan western juga rela setiap pagi mendengar alunan lagu Natal dari Charlote Church, Mariah Carey dan Celine Dion. Yanti juga menghadiahkanku sebuah lilin kecil berwarna putih dengan pita putih dalam gelas bening. Senangnya.

Tetapi masih ada yang kurang. Aku belum punya pohon Natal dan di minggu-minggu itu kami sedang sibuk bertugas untuk mengatasi kebakaran hutan akibat musim kemarau di area sekitar kami, terutama di hutan-hutan penelitian proyek tempat kami bekerja.

Aku sudah cukup senang dengan apa yang ada dan kebersamaan dengan rekan-rekan kerja, jadi rasanya tanpa kehadiran sebuah pohon Natal tidak akan mengganggu. Lagipula aku cukup memahami bahwa inti Natal dan semangat Natal tidak terletak pada semua ornamen itu. Yang penting Yesus lahir di hatiku.

Jadi, it’s ok with or without a christmas tree.

Pohon Natal Kejutan

Apa yang kurelakan untuk tidak hadir pada Natalku, ternyata tidak serta merta direlakan oleh teman-temanku.

Tidak mudah menemukan cemara di sekitar daerah tempat kami tinggal, tetapi rekan-rekan kerjaku sering bercanda untuk menggotong cemara yang ada di depan pos polisi untuk dipindahkan ke mess-ku. Cemara depan pos polisi itu besar sekali dan hanya ada dua pohon, tidak mungkin mereka mengambilnya. Aku juga sudah membuat pengumuman, tidak menerima barang curian. Jadi, anggaplah itu hanya candaan segar penghilang penat seusai bekerja.

Namun sehari sebelum malam Natal, sebuah pohon cemara muncul di mess-ku. Pohon itu tidak besar, tidak indah, batangnya tidak lurus, dan dicabut seakar-akarnya dan digeletakkan begitu saja di depanku. Tetapi itu pohon Natal terindah dalam hidupku.

Rekan-rekan kerjaku hanya tertawa-tawa, “Kami menemukannya di belakang rumah Uyut! Itu pohon Natalmu!”. Seorang temanku yang beragama Advent dan tidak merayakan Natal membantuku menegakkan pohon Cemara itu dalam sebuah pot kecil dan menghiasinya dengan lampu dan hiasan-hiasan Natal. Yanti dan Aida juga senyam-senyum melihat pohon Natalku itu.

Kebaikan-kebaikan pun Lahir di Malam Natal

Saat malam Natal tiba, aku menyendiri di kamarku, menyalakan lilin kecil yang diberikan oleh Yanti dan mendengarkan alunan musik Natal yang syahdu sambil kerlip lampu-lampu kecil di pohon Natal-ku terus berkedip.

Aku membayangkan Yanti dan Aida seperti para majus yang berusaha memberi yang terbaik yang bisa mereka berikan, dan rekan-rekan kerjaku yang lain seperti para gembala yang mendengar kabar, mencari dan menemukan apa yang mereka dengar. Sedangkan aku, mungkin aku seperti kandang yang hanya diam menjadi saksi kasih yang luar biasa. Jika 2000 tahun yang lalu Yesus lahir di kandang Betlehem, maka Natal kali ini Yesus pun lahir di setiap hati mereka yang percaya kepadanya dan juga di hati orang-orang lain yang bahkan belum percaya pada-Nya dalam bentuk kebaikan-kebaikan yang luar biasa.

Malam Natal itu, aku berdoa agar Tuhan memberkati dan menganugerahi rekan-rekanku, sahabat-sahabatku, saudara-saudaraku dengan kasih dan kebahagiaan. Aku bersyukur karena Tuhan telah mengasihi aku melalui kehadiran mereka.

Tahun ini…

Tahun ini masing-masing kami sudah berada di tempat yang berbeda-beda. Sebuah sms kuterima dari Yanti, “apakah kamu sudah punya pohon Natal tahun ini? aku punya pinus di depan rumah..”, sebelum aku membalas sms itu, masih ada lanjutannya, “… tapi aku percaya Natalmu akan tetap happy dengan atau tanpa pohon Natal!”.

Aku mengalami Natal bersama sahabat-sahabat yang tidak seiman denganku. Natal adalah wujud kasih Allah bagi semua umat manusia, makanya aku percaya kebaikan-kebaikan di hati mereka juga diberikan oleh Allah dan tidak seorang pun dapat membatasi karya penyelamatan Allah.

Terima kasih untuk pohon Natal terindah. Terima kasih untuk semangat memberi dan mengasihi. Terima kasih untuk persahabatan dan persaudaraan yang akan kukenang selamanya.

George Sicillia

ditulis kembali untuk Majalah KASUT GKI Pondok Indah

Selama Masih Ada Waktu

Selama masih ada waktu
Ijinkan mulutku Tuhan
Hanya untuk memuji keagungan-Mu

Selama masih ada waktu
Ijinkan tanganku Tuhan
Hanya menuliskan perbuatan ajaib-Mu

Selama masih ada waktu
Ijinkan mataku Tuhan
Hanya melihat seperti Engkau melihat

Selama masih ada waktu
Ijinkan telingaku Tuhan
Hanya mendengar tuntunan sabda-Mu

Selama masih ada waktu
Ijinkan kakiku Tuhan
Hanya melangkah pada jalan yang Kau mau

Selama masih ada waktu
Ijinkan hidupku Tuhan
Hanya dipersembahkan kepada-Mu

Ge’
Desember 2009

Tuhan…
Ada yang tak ‘ku mengerti
Tentang tawa dan tangis
Yang menghiasi kisah hidup seseorang
Bagaimana tawa dapat mewakili kesedihan
Dan tangisan untuk suatu kegembiraan
Mengapa tidak pernah selalu ada tawa
Dan tidak pernah selalu ada tangis

Tuhan…
Ada yang tak ‘ku mengerti
Tentang cinta dan kebencian
Yang memberi warna pada hidup manusia
Bagaimana cinta dapat membinasakan
Dan kebencian dapat dilakukan atas nama cinta
Bilakah cinta cukup untuk cinta
Sehingga tidak ada ruang untuk membenci

Tuhan…
Ada yang tak ‘ku mengerti
Tentang harapan dan kekecewaan
Yang kadang hanya mempermainkan perasaan semata
Bagaimana harapan dapat mengecewakan
Dan kekecewaan memberi alasan untuk berharap
Jika tidak berharap tentu tidak kecewa
Tetapi apa artinya hidup tanpa harap

Tuhan…
Memang banyak yang tak ‘ku mengerti
Dan sesungguhnya tak ingin ‘ku mengerti
Kecuali satu yaitu tentang Engkau
Untuk apa Engkau mau menjalani
Kehidupan yang membingungkan ini
Dan memintaku untuk tetap mempercayai-Mu!

Tuhan…
Ada yang tak ‘ku mengerti
Tentang aku dan Engkau
Apakah aku sedemikian berharganya bagi-Mu
Atau karena Engkau terlalu naif
Engkau menyebut itu kasih
Dan Engkau membuatku gentar!

Ge’
Desember 2009
Otakku tidak bisa memuat Tuhan

Tentang Hidup

Hidup seorang Kristen

Adalah perjalanan menuju Dia

Untuk bersatu dengan Dia

Yaitu Kristus

Ge’

Desember 2009

SELAMAT NATAL 2009!

Semoga hidup kita senantiasa merefleksikan bahwa Tuhan itu baik kepada semua orang \(^_^)/

dengan doa dan kasih,
George Sicillia

Beberapa hari yang lalu, seorang sahabat pernah bertanya apakah makna Natal tahun ini bagi saya. Ia juga bertanya, mengapa ketika seseorang beranjak dewasa maka orang itu kehilangan ekstasi Natal masa kecilnya sehingga Natal masa kecil akan jauh berbeda dengan Natal saat beranjak dewasa. Salah seorang sahabat yang lain memberikan penjelasan yang cukup masuk akal. Menurutnya, akan ada satu masa yang menjadi titik balik seseorang memaknai Natal. Baginya titik balik memaknai Natal adalah saat menjalani Natal pertama tanpa orang terkasih, entah itu keluarga, teman, atau siapapun yang berarti dalam hidup. Dan dibutuhkan sekian Natal berikutnya, hingga ia akhirnya boleh tersenyum lagi di hari Natal.

Sudah 31 Natal yang saya lewati dalam hidup saya. Masing-masing memiliki ceritanya sendiri. Tidak semuanya manis, tetapi tidak satupun yang disesali. Tahun inipun bukan tahun yang berhiaskan tawa, tetapi saya sudah berjanji bahwa entah kehidupan yang saya jalani menyenangkan, tidak menyenangkan, atau bahkan berjalan hambar tanpa rasa, saya akan tetap belajar mencintai Dia. Di dalam Dia, hidup saya tentu walau tampak tidak menentu. Tetapi untuk sampai di titik ini, bukan berarti saya tidak memiliki pertanyaan-pertanyaan di dalam hati saya tentang Tuhan yang saya cintai itu.

Tema Natal tahun ini adalah Tuhan itu baik kepada semua orang. Jika Tuhan itu baik kepada semua orang, maka Ia tentu baik pula kepada saya. Tetapi pertanyaannya adalah, kenapa Tuhan harus baik kepada saya? Apakah Tuhan memiliki kewajiban tertentu sehingga Ia harus berbuat baik kepada saya? Siapa saya di mata Tuhan? Lalu bagaimana dengan Anda atau orang-orang lainnya? Apa yang sudah kita, umat manusia, lakukan sehingga Tuhan harus berbuat baik kepada kita semua? Tidak ada! Selain kenyataan bahwa Tuhan itu baik adanya.

Walaupun demikian, betapa seringnya kita bertingkah konyol. Kita marah karena keterbatasan kita memahami kebaikan Tuhan. Setidak-tidaknya hal itu berlaku pada saya. Begitu mudahnya saya menyerukan dan menyanyikan kebaikan Tuhan ketika segala sesuatu sesuai dengan keinginan saya ataupun menyenangkan hati saya. Tetapi bila tidak, maka segudang ‘mengapa’ ditujukan kepada Tuhan. Apakah Tuhan kurang baik kepada saya? Jika pun demikian, apakah saya berhak menuntut Tuhan untuk baik kepada saya? Apakah saya cukup baik untuk menerima kebaikan Tuhan? Dan bila saya memiliki masalah, apakah hak saya meletakkan masalah saya jauh lebih besar daripada kebaikan Tuhan? Disisi lain, kadang saya pongah. Hal-hal yang berjalan dengan baik, saya banggakan sebagai karya diri. Padahal di atas semua usaha dan kerja keras saya, ada kebaikan Tuhan yang memungkinkan semuanya itu terjadi. Herannya, tetap sulit bagi saya untuk belajar merendahkan hati di hadapan Tuhan yang baik.

Hal bodoh lainnya yang sering kita lakukan adalah membatasi kebaikan Tuhan hanya pada diri kita. Si anak sulung yang tak rela Sang Bapa menyambut adiknya yang bertahun-tahun pergi dan kini pulang. Menganggap Sang Bapa bersikap tak adil dalam membagi kebaikan. Berharap yang terhilang tetap terhilang, dan rela melihat hati sedih Sang Bapa dalam penantian-Nya daripada turut dalam kegembiraan menyambut adiknya. Bila saya sudah melayani Tuhan dengan seluruh hidup saya, bila saya telah menjadi orang Kristen yang baik, apakah hak saya mengklaim kebaikan Tuhan untuk diri saya saja? Atau jangan-jangan saya adalah pekerja kebun anggur yang datang pagi-pagi sekali untuk bekerja, dan saya protes kepada Sang Pemilik Kebun, karena Ia memberikan upah yang sama dengan pekerja-pekerja yang datang kemudian. Bukankah apa yang Ia berikan adalah milik-Nya, apakah hak saya mengatur sesuatu yang bukan milik saya? Mengapa saya harus terluka bila apa yang saya dapatkan dengan berjerih lelah tak lebih banyak daripada apa yang didapatkan orang lain dengan sedikit peluh. Mengapa saya tidak juga belajar bersyukur dan memacu diri untuk tetap menjadi pekerja-Nya yang terbaik? Bukankah Ia yang mengetahui maksud hati dan menguji setiap niat dan cita-cita? Bukankah Ia Tuhan yang baik kepada semua orang?

Jika Tuhan itu baik kepada semua orang, termasuk pada saya, apakah yang dapat saya lakukan? Mengapa saya terus berpusat pada diri saya? Mengapa saya takut menyentuh dan menjadi bagian dalam pergumulan sesama? Mengapa saya tidak lebih serius mendoakan bangsa saya? Mengapa saya bersembunyi dibalik ritual ibadah saya? Saya memang menerima kebaikan Tuhan, tetapi harus saya akui bahwa sulit untuk melakukan kebaikan sama seperti kebaikan Tuhan pada saya. Setidak-tidaknya akan lebih mudah berbuat baik kepada mereka yang juga berbuat baik kepada saya atau mereka yang saya sayangi, tidak sebaliknya. Tetapi bukan demikian kebaikan Tuhan. Kebaikan Tuhan itu tidak sesederhana yang kita pikirkan. Ahhh, begitu sulitnya memancarkan sedikit saja kebaikan Tuhan lewat diri kita agar orang lain juga dapat mengamini bahwa Tuhan yang saya sembah itu baik adanya. Saya harus belajar. Dan saya masih terus belajar.

Natal inipun pasti karena Tuhan itu baik kepada semua orang. Ia datang bukan cuma untuk saya, bukan cuma untuk Anda, bukan cuma untuk gereja, tetapi untuk semua orang. Tuhan yang menganggap bahwa kita semua layak untuk dikasihi dan menerima kebaikan-Nya. Ya, Tuhan memahami mimpi-mimpi kecil seorang anak kala Natal, tetapi Tuhan yang sama juga memahami duka dan realita kehidupan yang mengeraskan hati seorang dewasa. Tuhan yang terlalu baik untuk kita yang tidak baik. Saya tidak dapat menjawab apa makna Natal bagi saya tahun ini. Saya sulit menjawabnya karena ini bukan tahun yang mudah bagi saya. Saat ini, dengan langkah-langkah berat, saya sedang menyusuri pengujung 2009. Saya tidak tahu apa yang ada di depan sana tetapi bahwa Tuhan itu baik kepada semua orang sungguh suatu penghiburan yang indah.

Selamat Natal 2009!


Ge’
Jakarta, 22 Desember 2009
maaf tak menjawab pertanyaanmu..

ADVEN IV

Empat lilin kami nyalakan
Tanda Natal sudah dekat
Lilin ini tanda harapan
Tuhan Yesus datang seg’ra


sebuah lagu.
tidak diketahui penciptanya.

Older Posts »