Feeds:
Posts
Comments

Tok! Tok! Tok!

Baca: Lukas 2:1-7

… ia melahirkan seorang anak laki-laki … dan dibaringkannya di dalam palungan, karena tidak ada tempat bagi mereka di rumah penginapan (Lukas 2:7)

Tego bingung. Sutinah, istrinya, akan segera melahirkan. Karena kondisi Sutinah yang lemah, bidan kampung merujuknya ke rumah sakit terdekat yang mempunyai program Jamkesmas. Sesampai di sana, Sutinah ditolak karena semua kamar untuk rawat inap sudah penuh. Tego tidak berani membawa Sutinah ke rumah sakit swasta karena tak sanggup membayar, tetapi juga tidak tega melihat istrinya kesakitan. Dengan langkah penuh harap, ia menyusuri setiap lorong rumah sakit, berharap ada satu tempat tidur kosong yang lupa terdata oleh petugas rumah sakit supaya Sutinah bisa segera ditolong.

Langkah penuh harap itu mungkin juga dialami Yusuf sesampainya di Betlehem saat berusaha menemukan tempat menginap, sebab Maria hendak bersalin. Mungkin memang tak ada tempat di rumah penginapan yang mereka datangi. Mungkin juga ada, tetapi bukan untuk mereka. Atau memang ada, tetapi pemiliknya tak mau repot karena melihat kondisi Maria yang hamil tua. Penulis Injil Lukas tidak menjelaskan lebih jauh selain bahwa akhirnya Maria melahirkan anak laki-laki yang dibungkus lampin dan dibaringkan di palungan, karena tak ada tempat bagi mereka di penginapan.

Kali ini, ”pintu” itu diketuk lagi. Bukan pintu rumah penginapan, melainkan ”pintu hati” kita, sebab ke sanalah Yesus ingin ”lahir”. Ada baiknya mengambil waktu memeriksa hati. Jangan-jangan hati kita sesak oleh berbagai urusan sehingga tak ada ruang lagi bagi Yesus. Atau jika ada, ruang kosong di hati kita sudah diperuntukkan bagi hal lain. Atau, kita terlalu sibuk untuk sekadar membuka hati bagi kelahiran Sang Juru Selamat. Tok! Tok! Tok! —SL

ADA BANYAK TEMPAT DI HATI KITA
SUDAHKAH YESUS MENEMPATI BAGIAN UTAMANYA?

 

Tulisan saya sebagaimana dimuat di Renungan Harian hari ini ^_^

Natal

Natal bukan hanya momen sukacita
Natal bukan hanya momen ketakutanmu lenyap
Tapi, Natal juga momen untuk belajar
Belajar tentang kerendah-hatian Allah

Diam-diam dia menatap dari balik tiang

Setengah ternganga melihat anak-anak seusia dirinya

Mereka cantik dan gagah dalam pakaian yang bagus

Siap berada di panggung memadu suara

Dan menikmati tepukan meriah

 

Diam-diam dia mundur perlahan

Pakaian lusuhnya terlihat kontras dengan mereka

Membuat surga dan bumi enggan bercium-ciuman

Dia hanya berharap bisa memungut sisa-sisa sampah

Tanpa harus dimarahi pak satpam

 

Diam-diam dia menjauh

Menyingkir di pojok taman yang gelap

Menanti rembulan meninggi dan kembali ke tempat itu

Demi mengisi karung plastiknya yang masih melompong

Agar ibu dan adik-adik bisa peroleh uang

 

Diam-diam dia duduk termenung

Dia marah, dia sedih, kemudian menangisi dirinya sendiri

Tapi cahaya itu benderang, bunyi-bunyian itu begitu jelas

Nyanyian terdengar yang belum pernah terdengar

Malaikat menyanyikan kabar gembira untuknya

 

Ia terjaga dari pulasnya

Setengah berlari menuju gereja di seberang taman

Anak-anak yang tadi siang dilihatnya sedang berjalan pulang

Menatapnya bingung dan heran

Tapi ia tak peduli, ia harus menyampaikan sesuatu pada-Nya

 

Dengan mata berkaca-kaca ia masuk ke gereja itu

Melangkah penuh harap menghampiri altar

Sekadar sujud dalam ungkap syukur dan haru

Diam-diam memanjatkan sebaris doa:

“Walau dunia menolak aku, Engkau berkenan lahir untukku”

puisi natal 2011

by. George Sicillia

Ketika IA yang Menuntun

Ketika IA tak menuntunku menuju istana

Tetapi pada sebuah kandang binatang jauh dari indah

Ketika IA tak menuntunku pada kemegahan singasana

Tetapi pada sepasang orangtua muda dalam kesederhanaannya

Ketika IA tak menuntunku pada kebesaran seorang raja

Tetapi pada ketidakberdayaan seorang bayi mungil

Ketika IA menuntun.. ya, ketika IA yang menuntun

Aku akan ke sana, menekuk lutut dan bertelut

Memberi yang terbaik dari diriku

Menyembah hanya pada-NYA

puisi natal 2011

by. George Sicillia

Fainthearted

Ups.. It’s not about you! It’s all about me, honey!

Coz I know my heart would be broken if I go there

Coz I can not stand on that side like I want

Melting the rock of me!

 

Do not look at me like that

You know Spiderman would not save you

And just like Sadman said,

“Not bad-man, just bad-luck”

 

Promise you teaching a new song of happiness

And say how much I love you thousand times

But forgive me to keep stay here

And saving all tears behind the smile

 

I’ll be waiting like the sweety

Till you grew up and be whatever you want

Composing a march of triumph to me

And let me feel sorry for never be there

 

It is the fainthearted me even never told you about that

So let me be here at this side like Pharisee

Forgive me thousand times, sweetheart…

The loves I said not bring me there

 

————

With love to all little angels in my life.

Sorry cannot cross the threshold.

Jakarta,070608

George Sicillia

Kebablasan

Baca: Maleakhi 1:1-7; 2:17
… di manakah Allah yang menghukum? (Maleakhi 2:17)

Cara seorang anak merespons kasih sayang orangtuanya bisa beragam. Bisa dengan penghormatan dan kepatuhan, bisa juga sebaliknya. Seorang anak dapat terus berbuat sesuka hati, melanggar semua aturan yang diberikan, bahkan secara sadar mengulang-ulang hal tersebut. Anak itu bertingkah ”kebablasan” atau kelewatan. Ia berpikir: “Orangtuaku sangat sayang padaku. Mereka tidak akan marah pada apa pun yang kulakukan karena aku ini kesayangan mereka”.

Kalimat pernyataan Tuhan yang pertama dalam kitab Maleakhi adalah: “Aku mengasihi kamu” (1:2). Namun, setelah itu terungkap keluhan atas berbagai tingkah umat yang kebablasan. Kasih sayang Tuhan disalahartikan, bahkan dijadikan pembenaran atas berbagai perbuatan yang sesungguhnya mengecewakan hati Tuhan. Umat Israel tidak menyadari betapa mereka menyusahkan hati Tuhan dengan semua perilaku itu.

Kita pun sebagai orang-orang yang dikasihi Tuhan, sering kebablasan. Mengetahui bahwa Tuhan mengasihi kita, tidak membuat kita bersyukur dan berusaha hidup benar meneladani kasih-Nya. Kita terus melakukan kesalahan dan menganggapnya biasa karena berpikir hal itu tidak mengurangi kasih Tuhan kepada kita. Bacaan hari ini mengingatkan bahwa kita keliru menganggap Tuhan berkenan pada perbuatan yang tidak baik. Kalaupun Dia tidak menjatuhkan hukuman, bukan berarti kejahatan kita dibenarkan oleh-Nya. Seperti orangtua yang bisa menegur dan menghukum anaknya agar tidak kebablasan, Tuhan pun dapat mengajar kita—walau untuk itu Dia sangat bersusah hati. Karenanya, maukah kita tidak lagi kebablasan dan menyalahartikan kasih sayang Tuhan?—SL

KASIH TUHAN ITU MEMBEBASKAN
TETAPI TIDAK MEMBABLASKAN

Tulisan saya sebagaimana dimuat di Renungan Harian edisi hari ini :)

Berani karena Benar

Baca: 1 Raja-raja 18:16-19

Segera sesudah Ahab melihat Elia, ia berkata kepadanya: “Engkaukah itu, yang mencelakakan Israel?” (1 Raja-raja 18:17)

Mengapa orang takut berkata benar? Bisa jadi karena mengatakan kebenaran itu berisiko. Seperti kisah anak SD yang dimusuhi karena mengungkap kecurangan dalam ujian nasional. Ia dianggap mencelakakan sekolah dan teman-temannya. Ia dikucilkan. Kebenaran yang ia ungkap berdampak tak menyenangkan dan secara langsung merugikan dirinya.

Saat Ahab menyembah berhala dan orang Israel berpaling dari Tuhannya, Elia menyampaikan firman Tuhan bahwa tidak akan ada embun maupun hujan di negeri itu (17:1). Setelah hal itu berlangsung selama tiga tahun, Tuhan meminta Elia kembali menemui Ahab. Sayang, raja Israel bukannya menyesali ketidakbenaran yang ia perbuat dan memperbaiki segala sesuatu, tetapi malah langsung menuduh Elia: “Engkaukah itu, yang mencelakakan Israel?” (18:17)

Ini juga bisa kita alami saat mengungkap kebenaran di keluarga, pelayanan, atau tempat kerja. Apalagi jika kita hanya sendirian, berhadapan dengan orang yang punya kekuasaan lebih, dan di belakang mereka ada banyak pendukung (bdk. ayat 19). Maka, bisa dipahami jika hingga kini berbagai penyimpangan, ketidakadilan, bahkan dosa, terus terjadi. Sangat mungkin karena orang takut pada ketidaknyamanan yang bisa timbul saat kebenaran diungkap.

Kita dipanggil untuk menjadi bagian dari rencana Tuhan agar keluarga, pelayanan, pekerjaan, bahkan bangsa kita, beroleh damai sejahtera. Ada kebenaran yang Tuhan ingin kita ungkapkan. Bukan untuk mencelakakan orang-orang yang kita kasihi, tetapi untuk mencegah mereka mencelakakan diri sendiri (18:18). Dengan pertolongan Tuhan, beranilah karena benar! —SL

KADANG KEBENARAN SEPERTI OBAT YANG PERIH
BAGI LUKA YANG MAU DISEMBUHKAN

tulisan saya sebagaimana dimuat di Renungan Harian edisi hari ini :)

Ada Saatnya Menyerah

Baca: Yeremia 27

Beginilah firman TUHAN kepadaku: “Buatlah tali pengikat dan gandar, lalu pasanglah itu pada tengkukmu!” (Yeremia 27:2)

Yos memukul tengkuk lelaki itu hingga pingsan. Ia terpaksa melakukannya karena pria itu terus meronta dan menyulitkan saat hendak ditolong dalam proses evakuasi di laut. Ketika ia dibuat tak berdaya, Yos bisa merangkul leher pria itu dan berenang membawanya ke pantai.

Bacaan hari ini secara mencengangkan menceritakan bahwa ada saat untuk menyerah, untuk menaklukkan diri kepada orang yang mungkin bukan sahabat kita, bahkan merupakan musuh yang akan mengambil hak kita. Tentu sepanjang hal itu dikehendaki Tuhan. Gandar kayu di tengkuk Yeremia adalah gambarannya. Yeremia diminta memberi tahu raja-raja tetangga bahwa seluruh negeri telah diserahkan ke tangan Nebukadnezar, raja Babel, dan mereka harus takluk kepadanya agar tidak mati oleh pedang, kelaparan, penyakit. Ini pun berlaku bagi Yehuda yang saat itu diperintah Raja Zedekia. Ini perintah yang sulit dan tak menyenangkan untuk dilakukan, terutama oleh bangsa yang ”tegar tengkuk”.

Mungkin ada saat kita bertanya; mengapa Tuhan menaruh kita di posisi tidak berdaya, mengapa Tuhan seolah-olah melukai ego kita dan tidak membiarkan kita bangkit. Belajar dari kisah evakuasi laut yang dilakukan Yos, ada saatnya ketidakberdayaan itu membantu proses kita diselamatkan dari bahaya yang lebih besar. Sayangnya dalam lanjutan bacaan ini, kerajaan Yehuda tidak mau menyerah hingga mereka berakhir di ujung pedang dan pembuangan di Babel.

Kita mungkin diizinkan Tuhan untuk tidak berdaya, tetapi bukan berarti Tuhan juga sedang tanpa daya. Jika kita meyakini segala sesuatu tetap dalam kendali Tuhan, kita bisa belajar menyerah pada kehendak Tuhan tanpa takut dan ragu —SL

TUHAN TIDAK SEDANG TINGGAL DIAM
SAAT DIA MEMINTA KITA UNTUK MENYERAH

Tulisan saya sebagaimana dimuat di renungan harian edisi hari ini ^_^

http://renunganharian.net/index.php/2011/11-november/73-ada-saatnya-menyerah

Kemiskinan adalah…

Kemiskinan adalah..

Saat kau dan aku saling berhadapan

Sebagai subjek dan objek

Bukan sebagai sesama

Kemiskinan adalah..

Ruang kosong antara kita

Boleh kujejaki tepiannya

Bila memenuhi syarat yang kau ajukan

Kemiskinan adalah..

Legalisasi yang kau buat tentangku

Tanpa menghiraukan hakekat diriku

Dan kenyataan bahwa kita tak beda

Kemiskinan adalah..

Keluhku pada Tuhan

Saat kau sibuk berdebat sebagai yang hebat

Dan aku masih di sini tak berbebat

Tulisanku sebagaimana dimuat dalam http://kemiskinandimataku.wordpress.com/

Seuntai Kata

Suatu waktu kata-kata itu tersimpan

Lekat di langit-langit mulutku, tak terbahasakan

Suatu waktu sejuta sesal menghujam

Saat kata-kata itu tak lagi bermakna

Seribu kali terucap tak sekali terdengar

Saat tercinta pergi dan tak lagi kembali

Meninggalkan senyap dan duka lara

Tak boleh lagi ada hari

Kubiarkan lewat tanpa untaian kata itu

Untuk semua orang terkasih

Aku mengasihimu!

 

Jakarta, 4 November 2011

Remembering Papa

Sebelas Sahabat Kecil

Baca: 1 Samuel 23:14-18

Maka bersiaplah Yonatan, anak Saul, lalu pergi kepada Daud di Koresa. Ia menguatkan kepercayaan Daud kepada Allah (1 Samuel 23:16)

Bacaan Alkitab Setahun:
Lukas 19-21

Saya punya sebelas sahabat kecil dari Lembah Baliem, Wamena, di Pegunungan Tengah Papua. Awalnya, seorang guru di sana meminta saya dan beberapa teman menjadi sahabat pena murid-muridnya. Persahabatan lewat surat ini dimaksudkan untuk menolong anak-anak agar suka menulis dan melatih mereka mengekspresikan pikirannya. Mereka bercerita tentang alam Wamena yang indah, guru, teman-teman, keluarga, pelajaran yang tidak disukai, juga cita-cita mereka. Hal yang paling membahagiakan buat saya adalah di setiap surat selalu ada tiga kalimat wajib; yaitu “I love you, Kak”, “Saya akan selalu mendoakan Kakak”, dan “Tuhan memberkati Kakak”.

Persahabatan ini tidak hanya berarti bagi sebelas sahabat kecil saya, tetapi juga buat saya. Kasih mereka yang polos dan doa-doa mereka membuat saya mengucap syukur kepada Allah. Ini mengingatkan saya pada persahabatan Daud dan Yonatan. Yonatan mengasihi Daud seperti mengasihi dirinya sendiri. Saat Saul, ayahnya, berencana buruk kepada Daud, Yonatan tetap berbuat baik. Di Koresa, Daud dalam keadaan was-was karena nyawanya terancam. Akan tetapi Yonatan menemui Daud, menunjukkan kepada Daud bahwa Tuhan selalu menyertai, dan yang terpenting, menguatkan kepercayaan Daud kepada Allah.

Saya tak meminta sahabat-sahabat saya mendoakan saya, tetapi mereka melakukannya dengan tulus. Dan, saya merasakan kasih Allah yang luar biasa. Daud juga pasti mengucap syukur kepada Allah atas penguatan Yonatan, atas sahabat seperti dia. Anda pun dapat bersyukur atas kehadiran sahabat Anda, yang dalam susah maupun senang, menguatkan kepercayaan Anda kepada Allah —SL

SAHABAT SEJATI TIDAK MEMAKSA ANDA MEMERCAYAINYA
TETAPI IA MEMASTIKAN ANDA MEMERCAYAI ALLAH

 

Tulisan saya sebagaimana dimuat dalam Renungan Harian tanggal 3 November 2011 –>  http://renunganharian.net/index.php/2011/11-november/65-sebelas-sahabat-kecil

Tulisan ini didedikasikan juga untuk sahabat-sahabat kecil saya: Yessi, Hawilla, Audrey, Olga, John, Rondy, Toni, Ester, Putra, Iren dan Verlin di SD Koinonia, Wamena – Papua.

Sebenarnya babi dan sapi tidak benar-benar bertengkar. Masing-masing terlalu sibuk dengan urusannya sendiri. Masalahnya cuma satu, babi tidak suka dengan cara orang-orang memandang dirinya. Semakin tambun si babi, semakin orang mengira-ngira darimana ia mengorupsi uang negara. Padahal tidak perlu uang negara, ia bisa saja mengorupsi uang gereja, sumbangan bencana alam atau jadi pak Ogah bentar. Apa pedulinya.. selama tidak ada yang tahu, tidak masalah. Ga korup aja dikira korup, ya sekalianlah. Entar juga kalo mati,  ia pasti hibahkan semuanya buat Bab’s Foundation. Kerenkan? Huaahhh.. memang susah menjadi seekor babi, pikirnya, kalau terlalu aktif dikira babi nyepet, kalau biasa-biasa saja dikira pemalas. “Aduuhhhh… tidak bisa melihat babi santai ya?!”, gerutu si babi sambil berjalan mondar-mandir, ekornya semakin keriting karena dibawa pusing.

Si babi yang dongkol semakin dongkol melihat si sapi jadi lebih sering masuk TV. Padahal dibanding sapi, menurut si babi, masih lebih cakepan dirinya. Babi tidak membenci sapi, tapi dia bete banget melihat si sapi yang sok lugu tetapi dipuja puji terus. Hmm.. larinya juga masih lebih cepat babi, bahenolnya juga masih lebih bahenol babi. Pusinglah si babi. Kurang cakep apa coba ia jadi binatang?

Mengingat kebanyakan berpikir bisa membuat si babi stress dan mengganggu kenikmatan tidur siang, sekaligus dalam rangka menjunjung asas praduga tak bersalah dalam hikmat perikebinatangan, babi memutuskan untuk curhat sama sapi.

“Hai, Sap!”, sapa si babi.

“Hai juga, Bab! Tumben jam segini lo masih jalan-jalan?”, jawab si sapi sumringah sambil setengah rebahan di atas rumput. Maklum abis makan, sementara empat lambungnya bekerja, ya boleh dong si sapi agak santai.

“Sap, kulihat sebenarnya kita sama saja. Kau tak lebih rajin dari aku. Tapi mengapa orang-orang itu selalu menganggap kau lebih hebat dari aku?”, keluh si babi panjang lebar.

“Oya?”, si sapi tersipu-sipu, “aku jadi malu jadi sapi.. hehe..”

“Ya ampun, Sap, please deh. Aku serius nih.”, si babi berasap juga liat si sapi bertingkah sok manis. Jadi pengen nabok nih, tapi babi kan ga bisa nabok, bisanya sruduk. Sruduk si sapi ga ya? Mmm.. jangan sekarang, si babi ga rela poninya yang abis diblow di salon rusak kesenggol sapi. Liat tampang si babi semakin memerah, si sapi langsung tau diri. Sambil membetulkan posisi baringnya agar perut sisi kiri dan kanan tetap simetris, si sapi mulai serius mendengarkan curhat si babi.

“Nape lo, Bab? Kudengar kau mau buat Bab’s foundation ya dan menghibahkan semua harta kekayaanmu ke situ?”, tanya si sapi, “wah, kamu hebat sekali ya jadi binatang!”.

“Nah, itu! Itu dia masalahnya, Sap! Aku hebat! Semuanya udah aku atur sama notarisku, publikasinya juga sudah, bahkan kalo aku mati.. buat manusia.. aku berikan semua-muanya. Ga kuberi aja bakalan diambil ama mereka. Dagingku, lemakku, minyakku, kulitku, sampe kepala dan kakiku pun dilibas ama mereka. Aku rela, Sap. Aku rela. Tapi… “, si babi terhenti sejenak buat ngebersihin hidungnya.

“Tapi kenapa, Bab? Ga ikhlas ya?”

“Sebenarnya sih ga, tapi bukan itu masalahnya. Sebagai babi, aku cuma ingin selama hidup diperlakukan baik-baik dan ga dikatain macam-macam gitu. Dikatain malas, penimbun duit, jorok, macam-macam lha.”

“Kenyataannya emang kamu malaskan, Bab?”

“Duh, Sap, biar kate aku malas,kanga perlu kau perjelas dong!”, duh, ga manusia ga sapi sama aja mulutnya. Ga liat apa maskara si babi udah luntur kena ingusnya.

“Gini aja deh, Bab, kau mau aku bantu apa?”, tanya si sapi, “Selagi bisa, pasti kubantu. Tapi cepetan, aku harus bantu manusia ngebajak pesawat.. eh.. maksudnya ngebajak sawah”. Bosnya si sapi kelihatan berjalan menuju mereka. Alamak, harus cepat-cepat pergi nih. Walaupun hak waris sudah ditandatangani tapi si babi belum siap jadi saksang.

“Katakan padaku satu hal, apa yang membuat kau lebih hebat dari aku. Toh, aku di sini engkau di sana, buat manusia kita all-out ngasihnya, karena buntut-buntutnya kita sampe di wajan juga. Tapi kenapa oh kenapa, dikau lebih populer dibanding diriku, dan tak pernah dirimu mengalami pencemaran nama baik seperti aku?”

“Pencemaran nama baik?”

“Lha iyalah, masak ya iya duong?!”, bete bete ahh ngomong sama si sapi, “Pernah ga sih ada yang bilang ‘dasar sapi!’, adanya juga ‘dasar babi, kau!’ Please deh, emang enak jadi babi?! Back to the point, ayo jawab!” galak je.

“Bab, my friend, kasian banget sih kau jadi binatang!”, kata si sapi bijak sambil memilin ekornya yang belum sempat dicreambath. “Eittsss… jangan ngamuk dulu!”, tahannya waktu si babi kelihatan gusar dan semakin berasap. “Bab, sejujurnya nasib kita tuh masih jauh lebih baik dibandingkan TKW di Arab. Sebagai sapi, aku kasian lho sama mereka. Kalo kitakan disembelih karena disayang, kalo mereka beda choi. Ga ada sayang-sayangnya. Jadi kau ga usah merendah gitu lha, Bab, kau masih 100 kali lebih baik daripada manusia yang menyembelih sesamanya itu. Perikebinatanganmu masih lebih peka daripada perikemanusiaan mereka..”

“Woii Sap, kalo itu aku sudah tahu. Sama kau juga, masih lebih baik aku. Lebih produktif aku pula kalo soal punya anak. Nah, itulah masalahnya, kenapa fakta ini ga disadari dan kau selalu dianggap lebih baik dari aku, give me a reason dong!”, tuh bibir tambah monyong deh.

“Bab, aku belajar nih dari para relawan yang nolongin aku keluar dari semburan Wedhus Gembel, kalo memberi dan being all-out itu ga selalu harus nunggu nanti. Tapi harus kita lakukan sesegera mungkin dan sepenuh hati agar sebanyak mungkin makhluk yang bisa diselamatkan. Jadi, Bab, menjadi daging kiloan dan menggemukkan manusia-manusia yang belum tentu baik sama kita memang sudah menjadi suratan kita pas kita almarhum. Tapi aku mau belajar memberi juga sebelum jadi almarhum, makanya aku biarkan petani menggunakan tenagaku buat membajak sawah ladang, kotoranku buat menyuburkan tanamannya, punggungku buat anak-anaknya duduk bermain, juga susu untuk diminum. Mungkin bedanya kita di situ, Bab. Karena aku memberi dan being all-out selama aku masih hidup, bahkan sampai nantipun aku tetap bersukacita walaupun lidah dan ekorku pun diperebutkan di meja makan manusia.”

Si babi terdiam. Ia berpikir keras untuk jadi binatang yang lebih baik. Ditinggalkannya si sapi yang cuma melonggo melihat ekor si babi yang ga sekeriting waktu datang. Tak pernah sapi bayangkan bahwa curhat punya efek rebonding. Hmm.. si sapi menepis jauh-jauh keinginan merebonding ujung ekornya, lebih baik ia fokus membantu pak tani di sawah. Ia berjanji dalam hati suatu saat ia gantian yang akan curhat ke si babi. Andai si babi tahu kalo ia pengen banget punya kulit warna pink seperti babi makanya ia bela-belain pake masker lumpur tiap hari.

Di tempat lain, notaris si babi kebingungan, semua suratsakti diubah total. Si babi mau langsing, Bab’s foundation tidak perlu menunggu si babi jadi almarhum baru bekerja. Si babi bikin pusat konseling untuk membantu sesama binatang yang ingin curhat. Babi juga membuka layanan advokasi bagi binatang-binatang korban ilegal-trading, sedapat mungkin ia berusaha agar nasib mereka tidak seperti nasib para TKW di Arab. Si babi jadi jarang ke salon, juga jarang ke gym, duitnya ditabung aja buat nolong sesama binatang, lagian dengan rajin beraktivitas ia tetap sehat-sehat aja. Prinsipnya, hidup cuma sekali, jadi sedapat mungkin berbuat hanya yang paling baik di kesempatan yang cuma sekali itu. Babi ga peduli, semua kebaikannya diingat sesama binatang atau ga. Pokoknya all-out! Si babi jadi binatang paling terkenal di seantero jagat perbinatangan, saking terkenalnya ia juga lupa kalo ia terkenal. Tinggal si sapi yang mulai dongkol dan siap-siap mengibarkan bendera perang karena si babi ga juga sempat ngasih tips cara bikin kulitnya jadi pinky!

George Sicillia

19 November 2010

PRT Sayang, PRT Malang

Baca: Kolose 4:1-6

Hai tuan-tuan, berlakulah adil dan jujur terhadap hambamu; ingatlah, kamu juga mempunyai tuan di surga (Kolose 4:1)

Beberapa waktu lalu, dibentangkan sebuah serbet raksasa di Bundaran HI, Jakarta. Serbet raksasa itu merupakan bentuk aksi keprihatinan terhadap ketidakadilan yang sering dialami oleh para pekerja rumah tangga (PRT), baik di dalam negeri maupun di luar negeri. Mereka banyak mengalami perlakuan sewenang-wenang, bahkan kekerasan yang berujung pada kematian. Serbet besar itu hendak mengingatkan warga Jakarta bahwa banyak aktivitas bisa berjalan baik karena jasa para pekerja rumah tangga. Oleh karena itu, pengakuan, penghormatan, dan pemenuhan hak-hak pekerja rumah tangga, harus diperhatikan.

Dalam suratnya kepada jemaat di Kolose, Rasul Paulus juga mengingatkan setiap tuan yang mempunyai hamba agar selalu berlaku adil dan jujur (ayat 1). Berlaku adil dapat berarti memberikan kepada para pekerja apa yang menjadi hak mereka. Tidak memberi beban kerja lebih dari apa yang selayaknya dikerjakan. Jujur dapat diungkapkan dengan tidak mengeksploitasi atau memanfaatkan posisi para pekerja yang lebih lemah untuk kepentingan dan keuntungan pribadi atau perusahaan.

Kita harus selalu ingat bahwa hikmat dan kasih perlu dinyatakan di semua tempat, termasuk di rumah tangga dan lingkungan kerja. Jangan sampai kita dikenal sebagai dermawan di gereja, tetapi memperlakukan pekerja rumah tangga dengan kasar atau memberlakukan kebijakan perusahaan yang menyengsarakan para pekerja kita. Ingatlah, kita pun adalah hamba yang suatu saat kelak harus memberikan pertanggungjawaban kepada Tuhan. Di mata Tuhan, kita dan para pekerja kita setara berharganya —SL

SALING MENGHORMATI, MENGHARGAI, ANTARA TUAN DAN HAMBA
ADALAH BAGIAN DARI IBADAH

 

Tulisan saya sebagaimana dimuat di http://renunganharian.net pada hari ini

Topeng

Hidup kadang tak ramah

Dan kau tak perlu marah karenanya

Setidaknya ia tidak menipumu

Dengan topeng kepalsuan

 

Kau pun sering tak ramah

Memaksa hidup menjadi yang lain

Sisi hidup yang ramah

Terhalang topengmu

 

Topeng itu berkaskan cahaya

Tak terangi kesuraman jiwamu

Topeng itu dendangkan irama

Tak mengisi sunyimu di keramaian

 

Lepaskan topeng

Tertawa dan menangis bersama hidup

Mengalir bersamanya

Menjadi dirimu

 

Jakarta, Agustus 2011

Di bis kota suatu malam, menyaksikan kelakar jalanan yang menyedihkan

 

SALIB ITU

Derita itu sunyi

Sunyi itu derita

Tapi dengan cinta

‘Kan kurangkul salib itu

Jumat Agung, 21 April 2011

Older Posts »

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 33 other followers