Feeds:
Posts
Comments

JIKA

Jika aku, dan bukan Kristus
Yang terpancang di kayu laknat itu
Tetap tak lunas hutang dosaku
Dan tak berselamat jiwaku


from ‘VIA DOLOROSA’

Goretan

Bila garis kami harus berhenti
Saat kami ingin mengurainya panjang
Ajar tangan rela meletakkan pena
Kembalikan lembaran pada Hyang Milik
Goretan kami adalah doa
Dilafaskan seumur hidup

Semarang, 4 April 2009

Via Dolorosa

Tidak ada jalan kembali
Golgota menanti di ujung sana
Wangi kematian menyeruakkan pekik membahana
“Salibkan Dia! Salibkan Dia!”

Teringat kebersamaan di meja makan itu
Teringat ciuman manis di taman itu
Teringat penyangkalan di subuh itu
Teringat lambaian palma di gerbang Yerusalem

Tidak ada jalan kembali
Hanya salib menekan berat
Hanya sesah dan hujat menyobek hati
“Salibkan Dia! Salibkan Dia!”

Tertatih-tatih dalam pedih perih
Dalam duka dan luka yang semakin dalam
Lebih pahit dari anggur bercampur empedu itu
Yang coba menyayat sebongkah cinta di hati

Tidak ada jalan kembali
Tetes keringat, darah dan airmata berbaur
Debu menghempas, kaki lunglai terjungkal
“Salibkan Dia! Salibkan Dia”

Sesah tak sisakan jeda ‘tuk sekedar mendesah
Sementara bayang-bayang Kalvari kian nyata
Aroma kematian semakin menyeruak tajam
Golgota bukit tengkorak

Tak ada jalan kembali
Salib yang Kau pikul sudah ditancapkan
“Inilah Raja Orang Yahudi”
“Salibkan Dia! Salibkan Dia!”

Tok!! Tok!! Tok!! Tok!!
Kau dengarkah?
Suara paku menancap di kedua tangan-Nya?
Dan darah segar yang mengucur dari sana?

Tok!! Tok!! Tok!! Tok!!
Kau dengarkah?
Suara paku menancap di kedua kaki-Nya?
Dan darah segar yang mengucur dari sana?

Dan kau dengarkah pinta-Nya?
“Ya Bapa, ampunilah mereka karena mereka tidak tahu
apa yang mereka perbuat!”
Dan kau rasakah cinta-Nya?

Lalu gelap.
Yesus mati.
Tabir Bait Suci terbelah dua dari atas sampai ke bawah
Gempa bumi dan bukit-bukit batu terbelah
Kuburan terbuka

Maut tak sanggup menahan kuasa-Nya
Satu penyesalan terucap:
“Sungguh, Ia ini adalah Anak Allah”

Via Dolorosa
Berhiaskan cerca cela dan amis darah
Di ujungnya menanti kematian
Yang disambut dengan tangan terentang

Via Dolorosa
Ada cinta yang tak terbalas
Darah dan air mengalir dari lambung yang terluka
Cinta mencari dan menemukan jalannya

Via Dolorosa
Karena Yesus yang tersalib disana
Jalan kematian itu diubahkan menjadi jalan kehidupan
Kau pun disambut dengan tangan terentang

Via Dolorosa
Dalam derita-Mu kulihat cinta
Maut Kau kalahkan untukku
Kini aku punya jalan kembali

Paska 2008

Terluka

Tuhan…
Ketika ‘ku terluka, tolonglah aku
Agar lukaku tidak menjadi alasan
Melukai hati sesamaku
Atau melukai diriku sendiri

Tuhan…
Ketika aku terluka, tolonglah aku
Agar lukaku tidak menjadi alasan
Menutup mata atas limpahan kasih-Mu yang besar
Untuk diriku dan sesama melalui aku

Tuhan…
Ketika aku terluka, tolonglah aku
Menghitung jejas luka yang kutorehkan dihati-Mu
Dan pada hati terluka nan penuh cinta itu
Kupercayakan lukaku untuk disembuhkan

Jakarta, 1 Maret 2009

Ini Aku

Tuhan, ini aku
Tak sanggup ‘ku tengadah pada-Mu
Kakiku gemetar, hatiku bergetar
O betapa nista adaku

Tuhan, ini aku
Hatiku menuduhkan dosa
Berat, perih, remukkan aku
O betapa ‘ku menjauh dari-Mu

Tuhan, ini aku
Sungguh lemah dan tak berdaya
Jiwaku menangis dalam kelu dan malu
O betapa ‘ku butuh Engkau

Tuhan, ini aku
Dalam derita-Mu kulihat cinta
Ingat ‘kan aku orang berdosa ini
O Tuhan, betapa tak layak ‘ku Kau cinta!
akhir 2008

__________

Diambil dari “VIA DOLOROSA – Kumpulan Permenungan dan Puisi Paska”. Bagian ini terinspirasi dari momen Rabu Abu. Rabu Abu dalam tahun liturgi menandai umat kristiani memasuki minggu-minggu pra paskah, penghayatan penyesalan akan dosa dan betapa kita membutuhkan Kristus. Semoga kita tidak berakhir sebagai abu, tetapi pada hari-Nya hidup bersama sang Pemenang! Selamat Rabu Abu!

VIA DOLOROSA by George SicilliaSebagaimana judul yang tertera, buku ini adalah kumpulan permenungan dan puisi Paska. Momennya diambil mulai Rabu Abu, Kamis Putih, Jumat Agung, Sabtu Sunyi, Minggu Paska, Hari Kenaikan, hingga mahkota Paska yaitu Pentakosta. Tenang saja, Anda tidak akan digurui, karena buku ini cuma pergumulan seorang awam dalam memaknai masa raya Paska. Saya bukan teolog. Saya orang biasa-biasa saja. Bahkan untuk menyelesaikan buku ini saja, saya harus berjuang mati-matian hehe.. dan akhirnya buku ini selesai. Lega. Sebenarnya sudah dari beberapa minggu yang lalu, tapi di-keep sebentar biar pas momentumnya mendekati Rabu Abu dan masa raya Paska.

Sempat tergiur juga sebenarnya untuk menawarkan ke Penerbit, namun akhirnya saya putuskan untuk di-publish lewat blog saja (semoga someday later bisa terbit). Jadi, bisa di download bagi yang memerlukan (silahkan klik link di bawah untuk download). Terima kasih buat Pdt. Ferdy Suleeman, Ambarita, bang Poltak, Nadine, kak Rery dan Yancen atas masukan-masukannya yang memperkaya isi buku ini.

Bagi teman-teman yang menggunakan tulisanku, jangan lupa menyebutkan penulis dan sumbernya ya. Tidak usah membayar (“,). Saya senang berbagi dengan kalian. Tapi jika kalian tergerak melakukan sesuatu, kalian boleh menuliskan komentar untuk buku ini atau berbagi hal sederhana untuk siapa saja yang bisa kalian tolong hari ini.

Tuhan memberkati!

untuk download, silahkan klik link berikut ini: VIA DOLOROSA by George Sicillia

Sekitar 10.000 pengunjung mampir ke blog saya sepanjang tahun kemarin. Topik yang menjadi top searches berdasarkan urutannya adalah: Puisi dan Cerita Natal, Puisi Natal yang Sedih, Puisi Paskah, Diakonia, Krisis Ekonomi Global. Saya sedikit tergelitik dengan kata kunci pencarian ‘puisi Natal yang sedih’, kenapa harus ada tambahan kata-kata ‘yang sedih’? Sepertinya Natal identik dengan sesuatu yang hingar-bingar dan wah, sehingga perlu ada spesifikasi khusus bila mencari Natal yang tidak wah. Sadar atau tidak sadar, banyak pergeseran terjadi dalam memaknai perayaan agama. Tetapi sejatinya, yang kita butuhkan adalah apa yang telah Allah lakukan, sehingga momen-momen perayaan juga perlu menjadi momen relfleksi diri dan iman. Sebuah permenungan.

Setelah ‘terengah-engah’ menyelesaikan VIA DOLOROSA yang merupakan pergumulan saya memaknai Paska, my next project adalah menulis buku serupa tetapi tentang Natal. Doakan ya agar niat ini bisa terlaksana dengan baik dan saya boleh berbagi pergumulan saya memaknai Natal dengan Anda semua.

Tuhan memberkati!

Pembelaan Pohon Ara

Tuhan, belum waktuku untuk berbuah
Ranting-rantingku masih lembut
Daun-daun hijau baru mulai kukeluarkan
Datanglah padaku di saat musim buah ara
‘Kan kukeluarkan buah terbaik dari rantingku yang terbaik
Belum waktuku untuk berbuah, Tuhan

Tuhan, aku terhukum di hadapan-Mu
Begitu bergegas Kau inginkan aku menghasilkan
Andai ku tahu Kau akan menghampiriku saat ini
‘Kan kupaksakan buah-buah terbaik tersedia untuk-Mu
Tapi bagaimana mungkin aku melakukannya
Ketika Kau tak lagi menginginkan aku

diambil dari “VIA DOLOROSA – Kumpulan Permenungan dan Puisi Paska”; bagian ini terinspirasi dari kisah Yesus mengutuk pohon Ara

Jika aku seorang korban Lapindo
Haruskah mati beratus-ratus orang di antara kami
Agar ada yang peduli dan doakan kami

dear all,

kadang kita begitu tergugah pada angka mayat-mayat
pada kebrutalan yang buat kita merasa perlu menyatakan sikap
padahal tak banyak yang bisa kita lakukan untuk menolong mereka

tetapi pada mereka yang nyata-nyata ada di sekitar kita
yang dapat kita rengkuh, kita rangkul, kita tolong… kita acuh tak acuh
karena mereka belum mati sampai beratus-ratus orang

semoga kepedulian kita kepada mereka yang jauh
tidak membuat kita lupa untuk peduli pada mereka yang dekat
mari memperjuangkan harga kehidupan tanpa menunggu jadi mayat

semoga doa-doa kita dan teriak kita untuk Palestina
diterima oleh Tuhan yang pasti sudah jauh lebih dulu
tergerak hati-Nya oleh belas kasihan

blessings,
Ge’

Sebagai orang yang berasal dari daerah yang pernah dilanda konflik kerusuhan, saya sadar bahwa hidup dalam bayangan maut dan rasa was-was itu sungguh merupakan suatu penderitaan. Kehilangan-kehilangan yang menyertai semua itu juga menyebabkan sirosis hati karena dendam akut dan kronis, sesuatu yang tidak bisa disembuhkan dengan mudah bahkan kadang dibawa mati.

Jika konflik beberapa tahun di daerah asal saya saja menyisakan luka-luka yang masih berjejas, apalagi konflik yang sekian lama melanda Timur Tengah. Perang yang bertubi-tubi terjadi di jalur Gaza. Tentunya, semuanya itu jauh lebih parah, bahkan teramat sangat parah. Tak terhitung serapah yang sudah ditujukan pada kebiadaban itu ketika nyawa manusia menjadi onggokan perhiasan perang.

Sesungguhnya, saya tidak tahu apa yang terjadi di sana, saya tidak tahu jalinan permasalahan bak benang kusut yang ada disana, saya tidak tahu apakah hakikat kebenaran yang diperjuangkan oleh masing-masing pihak yang ada di sana secara jelas. Memang banyak pemberitaan media, tetapi yang saya maksud di sini adalah yang saya benar-benar tahu dan yakini kebenarannya. Namun seandainya pun saya tahu, kontribusi apakah yang dapat saya lakukan?

Di luar sana, teman-teman banyak yang mulai menunjukan semangat solidaritasnya untuk Palestina, namun saya tidak berada dalam arak-arakan itu. Saya coba bertanya kepada Tuhan, apa yang dapat saya lakukan sebagai seorang Sisil? Saya belum menemukan jawaban selain coba berefleksi apa yang saya punya untuk bisa saya sumbangsihkan. Hari ini, 12 Januari 2009, jumlah korban tewas tercatat 905 orang termasuk warga sipil. Jam ini, ketika jari-jari saya menari di atas keyboard komputer, jumlahnya tentu sudah lebih banyak lagi. Alangkah sedihnya dan alangkah pedihnya, para korban diingat sebagai angka.

Saya tahu bahwa yang saya punya saat ini adalah rasa empati yang besar bagi para korban perang. Saya yakin seyakin-yakinnya, duka mereka beribu-ribu kali lipat dibanding dukaku dulu, padahal saat itu saya sendiri nyaris tak kuasa menanggung. Oleh karenanya saya ingin mendedikasikan minggu ini sebagai minggu perkabungan saya bagi para korban perang yang ada di jalur Gaza. Saya percaya bahwa setiap nyawa berarti bagi Tuhan, masing-masing dihitung sebagai pribadi yang dicipta dengan cinta, bukan sekedar angka. Dan atas nama kemanusiaan saya berdoa agar secuil kasih bisa terbit di setiap hati yang pasti sarat dengan luka dan duka. Saya tahu sangat sulit untuk mengasihi saat pilihannya adalah membunuh atau dibunuh. Oleh karenanya, pinta saya adalah untuk Tuhan. Saya percaya bahwa hati Tuhan tentu jauh lebih lembut dibandingkan dengan hati ini, dan Tuhan pasti sudah jauh terlebih dahulu tergerak hati-Nya oleh belas kasihan bahkan sebelum doa-doa kita sampai kepada-Nya.

Ya Tuhan, janganlah murka kepada dunia ini. Ingatlah bahwa Engkau yang menaruh kami di sini dengan kasih, memelihara hidup kami dengan sayang, ingatlah akan kami sebagai milik kepunyaan-Mu saja. Bentuklah hati setiap kami seperti hati-Mu, agar kami mau memandang sesama kami sebagai wujud kasih-Mu dan belajar mengasihi mereka seperti Engkau mengasihi kami. Amin.

« Newer Posts - Older Posts »