Diakonos = Identity + Plentous of Joy

Diakonos (dee-ah’-koh-nos) berasal dari bahasa Yunani, sedangkan terjemahan bahasa Inggrisnya adalah “Deacon” dan kosakata teologi Indonesia menyebutnya diakonia dan diterjemahkan lebih lanjut sebagai kesaksian dan pelayanan. Deacon/diaken sendiri berarti “one who serves” yang merepresentasikan siapa kita dan apa yang kita lakukan bagi sesama.

Ada banyak hal. Ada sungguh sangat banyak hal yang dapat kita lakukan bagi sesama. Ada banyak alasan untuk memperhitungkan apa yang kita lakukan sebagai kebaikan. Namun dalam hal ini, saya berterimakasih kepada salah seorang teman saya yang mengingatkan bahwa, terminologi kebaikan itu relatif bahkan terminologi sesama juga relatif. Jadi pada dasarnya, manusia memiliki kecenderungan memilih motivasi dalam berbuat baik, standar dan batasan kebaikan yang ingin ia lakukan, dan kepada siapa ia ingin melakukan kebaikan. Karena semuanya relatif dan tergantung bagaimana kita memilih dan memutuskan.

Apakah GEREJA sebagai persona ataupun organisasi juga “memilih” dalam melakukan diakonia? apakah saya dan juga kamu, “memilih” ataupun “abstain” dalam melakukan diakonia? apa pilihan motivasimu, apa standar dan batasan pelayananmu, dan siapa yang dilayakkan menerima pelayananmu?

Ini pendapat saya:

Kekristenan seharusnya tidak terbelenggu pada terminologi. Begitupula diakonia. Sekalipun demikian, kekristenan haruslah sesuatu yang nyata dan berwujud, tidak maya dan tidak relatif, tapi absolut. Karena seorang kristen sejati tidak punya pilihan lain selain melayani. Wujud pelayanan memang bisa bermacam-macam, inipun menurut saya bukan pilihan. Semua yang bisa kita lakukan untuk pelayanan sudah diletakkan dalam hati dan alur proses hidup kita, yang perlu kita lakukan adalah menjawab ‘ya’ atas panggilan tersebut.

Merujuk pada apa yang saya tulis diatas. Pelayananmu merepresentasikan siapa kamu dan apa yang kamu lakukan kepada sesama. Diakonia pada hakekatnya adalah representasi identitas kita sebagai pengikut Kristus. Jika saya adalah pengikut Kristus, maka yang saya lakukan adalah pencitraan terhadap Pribadi yang saya sembah.

Jika apa yang kita lakukan masih berpusat pada diri sendiri, maka pelayanan adalah relativitas dengan batasan-batasan yang subjektif. Tetapi jika pelayanan itu berpusat pada Kristus, maka yang tampak hanyalah Kristus. Bukan saya, bukan kamu, bukan batasan-batasan manusia.

Jika Kristus pusat hidupmu, maka pelayanan bukanlah beban berat, bukan pula esklusifitas peribadatan, bukan sinterklas di aksi-aksi sosialmu. Tetapi, ungkapan syukur atas keselamatan yang sudah Tuhan berikan dengan cuma-cuma. Dan apa yang dapat dilakukan oleh jiwa yang melimpah dengan ungkapan syukur selain mewujudnyatakan dalam sikap dan perbuatan bahwa sebagaimana Kristus mengasihi aku maka akupun mengasihi sesamaku.

Identitasmu! Sukacitamu! Pelayananmu!

Selamat melayani (“,)

One thought on “Diakonos = Identity + Plentous of Joy

  1. Dear creativege,

    Cara mendukung Cross Project adalah dengan :
    1. Login ke WordPress Admin
    2. Design>Widget
    3. Pilih Text > Arbitrary text or HTML
    4. Copy Paste html dibawah


    5. Klik Change
    6. Klik Save Change

    Maaf.. bari balessss… sekalian tukeran link yah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s