Krisis Ekonomi Global

Saya bukan ahli ekonomi, bukan pengamat politik, bukan orang yang selalu meng-update berita. Sejujurnya, saya sering menghindari televisi dan surat kabar. Ada satu masa dimana saya kehilangan kepercayaan terhadap media, dan dengan penuh kesadaran tanpa mencoba mengungkung diri terhadap realita, mulailah saya menonton atau membaca seperlunya saja dengan memasang filter tertentu di benak saya. Namun, berita yang satu ini sontak masuk begitu saja. Banyak sekali orang membicarakannya dalam nuansa kecemasan. Katanya sih, lebih buruk dari krisis ekonomi nasional tahun 1997-1998.

Tidak banyak yang saya ingat dari krisis ekonomi 1998, waktu itu saya masih mahasiswa dan selalu menjaga agar lifestyle saya ada pada tataran yang sesederhana mungkin sehingga tidak perlu bereaksi terlalu drastis pada perubahan ekonomi. Lagipula ada pergolakan politik di Indonesia saat itu saat Soeharto lengser keprabon, sehingga ada hal-hal yang diterima sebagai resiko perubahan. Namun konflik yang terjadi di daerah setelah tahun itu, begitu menguras energi dan emosi saya. Terutama konflik Ambon dan Poso yang seperti tukar-tukaran, jika yang satu diam yang lain bergejolak. Seperti ada yang menekan tombol switch on/off. Sementara pada level bawah, orang masih saja tak sungkan sikut-menyikut. Membuat papa saya dalam usahanya menjalankan kerja sebagai ibadah dengan ikhlas bersedia dipotong 50% gaji setiap bulannya karena fitnah yang tak beralasan ketika para atasan sibuk jaga image. Untungnya, kami cukup legowo menerima semua itu dan tetap berempati kepada orang-orang tersebut yang akhirnya tak bersejahtera. Kami belajar, kekayaan dapat diambil tetapi bukan damai sejahtera.

Hingga saat ini, krisis ekonomi Indonesia belum membaik walaupun ada yang mengatakan sudah. Saya tidak menyalahkan. Toh ekonomi kita adalah ekonomi bentuk gelas sampagne, pada tingkatan atas membuka lebar tapi kemudian menciut kecil dan semakin kecil di bawah. Saya tidak membuat quisionaire untuk mengatakan hal ini, statistikpun kadang dapat menipu dan menjadi alat tipu, saya melihatnya dari perjumpaan demi perjumpaan bersama mereka yang tidak masuk hitungan. Mungkin dalam statistik hal ini dihitung sebagai deviasi tetapi nilainya bukan nol koma sekian, melainkan beberapa digit di depan koma.

Mengenai krisis ekonomi global yang saat ini semakin gencar bunyinya, saya masih percaya bahwa ada hal-hal yang dapat diambil tetapi ada hal-hal yang tidak. Dari beberapa artikel yang saya baca, isinya memang cukup mengkhawatirkan dan kesulitan yang lebih parah seolah berdiri di ambang pintu saat para penjaganya masih sibuk berdebat pada remeh-temeh yang tak jelas. Bagaimana tidak, segala sesuatu diusahakan sebesar-besarnya untuk kepentingan pribadi dan dijadikan kendaraan politik. Segala ‘kebaikan’ memiliki motivasi yang belum tentu baik.

Saya tahu, bahwa berbagai kondisi tidak bisa serta merta ditanggapi dengan pesimis, keunikan seorang kristen adalah pengharapannya yang tak pernah padam. Tetapi hanya menghibur diri bahwa segala sesuatu pasti akan baik-baik saja, tidak bijak juga. Saya tahu bahwa saya harus bekerja lebih keras, hidup lebih sederhana dan menolong lebih banyak. Dan sejujurnya, bukan krisis ini yang saya takutkan. Melainkan kebijakan-kebijakan yang diambil dalam menanggapi krisis inilah yang meresahkan saya. Ketika semua berusaha survive dari krisis, maka hanya keselamatan diri dan pihak yang menguntungkan yang akan diutamakan. Bagaimana dengan mereka yang tanpa krisispun sudah tersisihkan?

Dalam hati saya berdoa, semoga krisis menjadi satu cadas untuk mengikis hati yang berlumut dan mengasah serta menajamkan pedang keadilan. Semoga hikmat Tuhan menyertai mereka yang dekat dan mereka yang jauh, dan dengan kerendahan hati menyadari bahwa di saat-saat sulit seperti ini adalah saat terbaik untuk mulai mengeratkan tangan untuk saling menopang dan menjaga.

Bekerja lebih keras, hidup lebih sederhana, menolong lebih banyak.

One thought on “Krisis Ekonomi Global

  1. puji syukur pada Tuhan Yesus Yang Maha Kasih, disaat krisis seperti ini kita sebagai anak Tuhan memang diuji agar iman kita setegar batu karang, segagah gunung yang tinggi karena visi kita adalah duduk disebelah kanan Allah Bapa

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s