Berkabung untuk Palestina

Sebagai orang yang berasal dari daerah yang pernah dilanda konflik kerusuhan, saya sadar bahwa hidup dalam bayangan maut dan rasa was-was itu sungguh merupakan suatu penderitaan. Kehilangan-kehilangan yang menyertai semua itu juga menyebabkan sirosis hati karena dendam akut dan kronis, sesuatu yang tidak bisa disembuhkan dengan mudah bahkan kadang dibawa mati.

Jika konflik beberapa tahun di daerah asal saya saja menyisakan luka-luka yang masih berjejas, apalagi konflik yang sekian lama melanda Timur Tengah. Perang yang bertubi-tubi terjadi di jalur Gaza. Tentunya, semuanya itu jauh lebih parah, bahkan teramat sangat parah. Tak terhitung serapah yang sudah ditujukan pada kebiadaban itu ketika nyawa manusia menjadi onggokan perhiasan perang.

Sesungguhnya, saya tidak tahu apa yang terjadi di sana, saya tidak tahu jalinan permasalahan bak benang kusut yang ada disana, saya tidak tahu apakah hakikat kebenaran yang diperjuangkan oleh masing-masing pihak yang ada di sana secara jelas. Memang banyak pemberitaan media, tetapi yang saya maksud di sini adalah yang saya benar-benar tahu dan yakini kebenarannya. Namun seandainya pun saya tahu, kontribusi apakah yang dapat saya lakukan?

Di luar sana, teman-teman banyak yang mulai menunjukan semangat solidaritasnya untuk Palestina, namun saya tidak berada dalam arak-arakan itu. Saya coba bertanya kepada Tuhan, apa yang dapat saya lakukan sebagai seorang Sisil? Saya belum menemukan jawaban selain coba berefleksi apa yang saya punya untuk bisa saya sumbangsihkan. Hari ini, 12 Januari 2009, jumlah korban tewas tercatat 905 orang termasuk warga sipil. Jam ini, ketika jari-jari saya menari di atas keyboard komputer, jumlahnya tentu sudah lebih banyak lagi. Alangkah sedihnya dan alangkah pedihnya, para korban diingat sebagai angka.

Saya tahu bahwa yang saya punya saat ini adalah rasa empati yang besar bagi para korban perang. Saya yakin seyakin-yakinnya, duka mereka beribu-ribu kali lipat dibanding dukaku dulu, padahal saat itu saya sendiri nyaris tak kuasa menanggung. Oleh karenanya saya ingin mendedikasikan minggu ini sebagai minggu perkabungan saya bagi para korban perang yang ada di jalur Gaza. Saya percaya bahwa setiap nyawa berarti bagi Tuhan, masing-masing dihitung sebagai pribadi yang dicipta dengan cinta, bukan sekedar angka. Dan atas nama kemanusiaan saya berdoa agar secuil kasih bisa terbit di setiap hati yang pasti sarat dengan luka dan duka. Saya tahu sangat sulit untuk mengasihi saat pilihannya adalah membunuh atau dibunuh. Oleh karenanya, pinta saya adalah untuk Tuhan. Saya percaya bahwa hati Tuhan tentu jauh lebih lembut dibandingkan dengan hati ini, dan Tuhan pasti sudah jauh terlebih dahulu tergerak hati-Nya oleh belas kasihan bahkan sebelum doa-doa kita sampai kepada-Nya.

Ya Tuhan, janganlah murka kepada dunia ini. Ingatlah bahwa Engkau yang menaruh kami di sini dengan kasih, memelihara hidup kami dengan sayang, ingatlah akan kami sebagai milik kepunyaan-Mu saja. Bentuklah hati setiap kami seperti hati-Mu, agar kami mau memandang sesama kami sebagai wujud kasih-Mu dan belajar mengasihi mereka seperti Engkau mengasihi kami. Amin.

2 thoughts on “Berkabung untuk Palestina

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s