Sebuah catatan Sidang Raya PGI: DARI AMBON KE MAMASA

Dua puluh lima tahun yang lalu, umur saya belum genap tujuh tahun. Waktu itu Sidang Raya DGI X (sekarang PGI) dilaksanakan di Ambon. Kota Ambon bersukaria menyambut acara akbar bagi gereja-gereja di Indonesia tersebut. Sayangnya saya bersedih. Sebagai anak-anak, saya rindu mengambil bagian dalam atraksi meriah yang dilakukan oleh banyak anak lainnya pada acara Pembukaan Sidang Raya. Walaupun kadang atraksi ini hanya dilihat sepintas lalu, tetapi bagi seorang anak, hal ini sangat penting. Tetapi waktu itu, saya terpaksa hanya terdiam melihat sepupu-sepupu saya menari dan bernyanyi dengan pakaian berwarna-warni, kondisi kesehatan saya tidak memungkinkan saya untuk turut serta. Untunglah saya mempunyai seorang Papa yang baik. Papa mengajak saya ke Sporthall Karang Panjang Ambon, tempat berlangsungnya acara, setelah itu kami berkeliling dan melihat gapura-gapura hias berbentuk perahu dan salib diatasnya yang menghias kota Ambon. Dalam benak saya, pimpinan-pimpinan gereja pastilah orang-orang yang sangat hebat, sama hebatnya dengan pelaksanaan Sidang Raya itu sendiri. Dan dalam usia yang sangat belia itulah, sementara anak-anak lain menari, Papa memperkenalkan istilah oikoumene dan tri-panggilan gereja kepada saya.

Tahun ini, saya mendapat kesempatan menyaksikan Sidang Raya PGI XV di Mamasa, Sulawesi Barat. Seiring pertambahan usia, saya menyadari bahwa para pemimpin gereja bukanlah Tuhan, mereka hanya manusia biasa dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Walaupun demikian, hal ini bukanlah sebuah excuse, karena seorang pemimpin gereja diharapkan bisa menyuarakan suara kenabian. Pemimpin-pemimpin gereja yang hebat bukanlah mereka yang bersuara kuat, melainkan mereka yang tahu persis arti penyangkalan diri karena hanya dengan cara itulah mereka memberikan ruang seluas-luasnya bagi Tuhan untuk berkarya melalui dirinya. Di bawah sorotan tema: TUHAN ITU BAIK KEPADA SEMUA ORANG, nuansa rasa mewarnai pelaksanaan Sidang Raya XV di Mamasa. Rasa kesal karena sempat bermandikan debu karena ‘accident’ pendaratan helikopter yang salah tempat, rasa bingung karena sampai sehari menjelang pelaksanaan Sidang Raya jendela ruang sidang baru selesai dibuat, rasa was-was karena listrik yang hidup enggan mati sering, rasa kaget karena beberapa pendapat peserta menimbulkan tanda tanya di benak saya tentang bagaimana ia memaknai kekristenannya, rasa bosan yang kadang hinggap karena hampir 2 minggu tanpa televisi, juga rasa haru yang mengiringi proses rekonsiliasi GKI di Tanah Papua dan MPH PGI.

Walaupun kadang ada anggapan bahwa Sidang Raya tidak lebih dari ajang perebutan kekuasaan untuk menjadi kapten kapal PGI, hati saya selalu mendoakan agar biduk oikoumene ini dipimpin oleh Tuhan saja dan Tuhan pulalah yang menentukan siapa hamba-Nya. Saya sungguh berterima kasih kepada Tuhan, karena dibalik proses yang melelahkan itu, saya bisa melihat masih banyak hati yang sungguh-sungguh ingin melayani Tuhan. Orang-orang biasa dengan cinta yang besar pada Tuhan dan pada ciptaan di sekelilingnya. Orang-orang sederhana yang lebih banyak berkarya daripada obral kata. Saya juga bersyukur karena boleh melihat para pemimpin gereja tetap berdiri (dan tidak berlari) saat situasi cenderung tidak terkendali. Terlebih saya juga bersyukur karena boleh melihat para pemimpin gereja berani menyatakan maaf dan menawarkan pengampunan. Tanpa pengampunan tidak ada masa depan. Bagi seorang pemuda Kristen seperti saya, keteladanan seperti ini adalah bekal yang mengajari saya banyak hal.

Dari Ambon ke Mamasa, ada rentang waktu 25 tahun. Bahtera oikoumene terus berlayar di Indonesia tercinta. Seuntai doa terselip di hati, seandainya boleh, biarlah saya menjadi sehelai benang pada layar atau satu baut kecil pada buritan perahu yang walaupun tidak harus nampak tetapi boleh menjadi bagian dalam arak-arakan oikoumene untuk menyatakan bahwa Tuhan itu baik kepada semua orang. Pemahaman saya tentang oikoumene dan tri-panggilan gereja sejak 25 tahun lalu masih tetap sama, namun pemahaman itu akan lebih mendapat tempat bila ia direalisasikan. Semoga Tuhan berkenan memakai saya untuk Indonesia. Sungguh! Tuhan itu baik kepada Indonesia! Tuhan itu baik kepada semua orang!


Ge’
Mamasa – Jakarta,`2009
“Kebaikan Tuhan bukan untuk di-keep, tetapi di-share…”

One thought on “Sebuah catatan Sidang Raya PGI: DARI AMBON KE MAMASA

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s