Sebuah Refleksi: TUHAN ITU BAIK KEPADA SEMUA ORANG (Mazmur 145:9)

Beberapa hari yang lalu, seorang sahabat pernah bertanya apakah makna Natal tahun ini bagi saya. Ia juga bertanya, mengapa ketika seseorang beranjak dewasa maka orang itu kehilangan ekstasi Natal masa kecilnya sehingga Natal masa kecil akan jauh berbeda dengan Natal saat beranjak dewasa. Salah seorang sahabat yang lain memberikan penjelasan yang cukup masuk akal. Menurutnya, akan ada satu masa yang menjadi titik balik seseorang memaknai Natal. Baginya titik balik memaknai Natal adalah saat menjalani Natal pertama tanpa orang terkasih, entah itu keluarga, teman, atau siapapun yang berarti dalam hidup. Dan dibutuhkan sekian Natal berikutnya, hingga ia akhirnya boleh tersenyum lagi di hari Natal.

Sudah 31 Natal yang saya lewati dalam hidup saya. Masing-masing memiliki ceritanya sendiri. Tidak semuanya manis, tetapi tidak satupun yang disesali. Tahun inipun bukan tahun yang berhiaskan tawa, tetapi saya sudah berjanji bahwa entah kehidupan yang saya jalani menyenangkan, tidak menyenangkan, atau bahkan berjalan hambar tanpa rasa, saya akan tetap belajar mencintai Dia. Di dalam Dia, hidup saya tentu walau tampak tidak menentu. Tetapi untuk sampai di titik ini, bukan berarti saya tidak memiliki pertanyaan-pertanyaan di dalam hati saya tentang Tuhan yang saya cintai itu.

Tema Natal tahun ini adalah Tuhan itu baik kepada semua orang. Jika Tuhan itu baik kepada semua orang, maka Ia tentu baik pula kepada saya. Tetapi pertanyaannya adalah, kenapa Tuhan harus baik kepada saya? Apakah Tuhan memiliki kewajiban tertentu sehingga Ia harus berbuat baik kepada saya? Siapa saya di mata Tuhan? Lalu bagaimana dengan Anda atau orang-orang lainnya? Apa yang sudah kita, umat manusia, lakukan sehingga Tuhan harus berbuat baik kepada kita semua? Tidak ada! Selain kenyataan bahwa Tuhan itu baik adanya.

Walaupun demikian, betapa seringnya kita bertingkah konyol. Kita marah karena keterbatasan kita memahami kebaikan Tuhan. Setidak-tidaknya hal itu berlaku pada saya. Begitu mudahnya saya menyerukan dan menyanyikan kebaikan Tuhan ketika segala sesuatu sesuai dengan keinginan saya ataupun menyenangkan hati saya. Tetapi bila tidak, maka segudang ‘mengapa’ ditujukan kepada Tuhan. Apakah Tuhan kurang baik kepada saya? Jika pun demikian, apakah saya berhak menuntut Tuhan untuk baik kepada saya? Apakah saya cukup baik untuk menerima kebaikan Tuhan? Dan bila saya memiliki masalah, apakah hak saya meletakkan masalah saya jauh lebih besar daripada kebaikan Tuhan? Disisi lain, kadang saya pongah. Hal-hal yang berjalan dengan baik, saya banggakan sebagai karya diri. Padahal di atas semua usaha dan kerja keras saya, ada kebaikan Tuhan yang memungkinkan semuanya itu terjadi. Herannya, tetap sulit bagi saya untuk belajar merendahkan hati di hadapan Tuhan yang baik.

Hal bodoh lainnya yang sering kita lakukan adalah membatasi kebaikan Tuhan hanya pada diri kita. Si anak sulung yang tak rela Sang Bapa menyambut adiknya yang bertahun-tahun pergi dan kini pulang. Menganggap Sang Bapa bersikap tak adil dalam membagi kebaikan. Berharap yang terhilang tetap terhilang, dan rela melihat hati sedih Sang Bapa dalam penantian-Nya daripada turut dalam kegembiraan menyambut adiknya. Bila saya sudah melayani Tuhan dengan seluruh hidup saya, bila saya telah menjadi orang Kristen yang baik, apakah hak saya mengklaim kebaikan Tuhan untuk diri saya saja? Atau jangan-jangan saya adalah pekerja kebun anggur yang datang pagi-pagi sekali untuk bekerja, dan saya protes kepada Sang Pemilik Kebun, karena Ia memberikan upah yang sama dengan pekerja-pekerja yang datang kemudian. Bukankah apa yang Ia berikan adalah milik-Nya, apakah hak saya mengatur sesuatu yang bukan milik saya? Mengapa saya harus terluka bila apa yang saya dapatkan dengan berjerih lelah tak lebih banyak daripada apa yang didapatkan orang lain dengan sedikit peluh. Mengapa saya tidak juga belajar bersyukur dan memacu diri untuk tetap menjadi pekerja-Nya yang terbaik? Bukankah Ia yang mengetahui maksud hati dan menguji setiap niat dan cita-cita? Bukankah Ia Tuhan yang baik kepada semua orang?

Jika Tuhan itu baik kepada semua orang, termasuk pada saya, apakah yang dapat saya lakukan? Mengapa saya terus berpusat pada diri saya? Mengapa saya takut menyentuh dan menjadi bagian dalam pergumulan sesama? Mengapa saya tidak lebih serius mendoakan bangsa saya? Mengapa saya bersembunyi dibalik ritual ibadah saya? Saya memang menerima kebaikan Tuhan, tetapi harus saya akui bahwa sulit untuk melakukan kebaikan sama seperti kebaikan Tuhan pada saya. Setidak-tidaknya akan lebih mudah berbuat baik kepada mereka yang juga berbuat baik kepada saya atau mereka yang saya sayangi, tidak sebaliknya. Tetapi bukan demikian kebaikan Tuhan. Kebaikan Tuhan itu tidak sesederhana yang kita pikirkan. Ahhh, begitu sulitnya memancarkan sedikit saja kebaikan Tuhan lewat diri kita agar orang lain juga dapat mengamini bahwa Tuhan yang saya sembah itu baik adanya. Saya harus belajar. Dan saya masih terus belajar.

Natal inipun pasti karena Tuhan itu baik kepada semua orang. Ia datang bukan cuma untuk saya, bukan cuma untuk Anda, bukan cuma untuk gereja, tetapi untuk semua orang. Tuhan yang menganggap bahwa kita semua layak untuk dikasihi dan menerima kebaikan-Nya. Ya, Tuhan memahami mimpi-mimpi kecil seorang anak kala Natal, tetapi Tuhan yang sama juga memahami duka dan realita kehidupan yang mengeraskan hati seorang dewasa. Tuhan yang terlalu baik untuk kita yang tidak baik. Saya tidak dapat menjawab apa makna Natal bagi saya tahun ini. Saya sulit menjawabnya karena ini bukan tahun yang mudah bagi saya. Saat ini, dengan langkah-langkah berat, saya sedang menyusuri pengujung 2009. Saya tidak tahu apa yang ada di depan sana tetapi bahwa Tuhan itu baik kepada semua orang sungguh suatu penghiburan yang indah.

Selamat Natal 2009!


Ge’
Jakarta, 22 Desember 2009
maaf tak menjawab pertanyaanmu..

2 thoughts on “Sebuah Refleksi: TUHAN ITU BAIK KEPADA SEMUA ORANG (Mazmur 145:9)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s