Pohon Natal Terindah

Pohon Natal itu tidak indah sebetulnya.Hanya sebuah cemara kecil yang batangnya pun tidak tegak lurus berdiri.Tetapi karena diberikan oleh hati yang indah, ia menjadi pohon Natal terindah untukku.


DELAPAN tahun yang lalu, aku bekerja di daerah Kalimantan Timur. Tempat kerjaku tidak begitu ramai, sebagian besar pekerjanya adalah pria, dan yang merayakan Natal sangat sedikit jumlahnya. Itupun hampir semuanya mengambil cuti di hari Natal. Karena belum setahun bekerja, aku tidak bisa mengambil cuti tetapi aku ingin sekali merayakan Natal dan menghadirkan suasana Natal di mess.

Mess-ku tidak terlalu besar, ditempati oleh 4 staf perempuan tetapi salah satunya sedang bertugas di Kalimantan Tengah. Jadi kami hanya bertiga dan hanya aku yang Kristen.

Walaupun berbeda agama, kami semua belajar untuk saling menghargai dan saling mengingatkan untuk menjalankan ibadahnya masing-masing. Berada di tempat yang jauh dan sepi membuat ikatan persaudaraan kami begitu terasa. Bukan cuma aku dan rekan-rekan se-mess, tetapi juga dengan rekan-rekan kerjaku yang lain. Karena lingkup kerja dan lingkup tempat kami tinggal adalah tempat yang sama, maka kesenangan dan kesusahan satu orang bisa menjadi kesenangan dan kesusahan bersama.

I’ll not be home for Christmas

Teman satu mess-ku adalah Yanti, seorang dokter hewan dan satu lagi namanya Aida, yang mahir dengan urusan database dan piranti lunak komputer.

Menjelang Desember, mereka sudah tahu bahwa aku begitu ingin merayakan Natal dan menghadirkan suasana Natal. Tetapi keluargaku jauh, jadi aku tidak mungkin pulang untuk Natal. Gereja pun letaknya sangat jauh dan kendaraan umum hanya sampai jam delapan malam, tidak ada taksi, jadi aku tidak mungkin mengikuti kebaktian malam Natal.

Yanti dan Aida bukan beragama Kristen, tetapi mereka mengerti akan kerinduanku. Aku tidak akan melupakan kebaikan hati mereka mengijinkanku memajang hiasan Natal dan kartu-kartu di depan kamar mereka dan di seluruh tempat di mess kami. Aida yang tidak menyukai musik-musik klasik dan western juga rela setiap pagi mendengar alunan lagu Natal dari Charlote Church, Mariah Carey dan Celine Dion. Yanti juga menghadiahkanku sebuah lilin kecil berwarna putih dengan pita putih dalam gelas bening. Senangnya.

Tetapi masih ada yang kurang. Aku belum punya pohon Natal dan di minggu-minggu itu kami sedang sibuk bertugas untuk mengatasi kebakaran hutan akibat musim kemarau di area sekitar kami, terutama di hutan-hutan penelitian proyek tempat kami bekerja.

Aku sudah cukup senang dengan apa yang ada dan kebersamaan dengan rekan-rekan kerja, jadi rasanya tanpa kehadiran sebuah pohon Natal tidak akan mengganggu. Lagipula aku cukup memahami bahwa inti Natal dan semangat Natal tidak terletak pada semua ornamen itu. Yang penting Yesus lahir di hatiku.

Jadi, it’s ok with or without a christmas tree.

Pohon Natal Kejutan

Apa yang kurelakan untuk tidak hadir pada Natalku, ternyata tidak serta merta direlakan oleh teman-temanku.

Tidak mudah menemukan cemara di sekitar daerah tempat kami tinggal, tetapi rekan-rekan kerjaku sering bercanda untuk menggotong cemara yang ada di depan pos polisi untuk dipindahkan ke mess-ku. Cemara depan pos polisi itu besar sekali dan hanya ada dua pohon, tidak mungkin mereka mengambilnya. Aku juga sudah membuat pengumuman, tidak menerima barang curian. Jadi, anggaplah itu hanya candaan segar penghilang penat seusai bekerja.

Namun sehari sebelum malam Natal, sebuah pohon cemara muncul di mess-ku. Pohon itu tidak besar, tidak indah, batangnya tidak lurus, dan dicabut seakar-akarnya dan digeletakkan begitu saja di depanku. Tetapi itu pohon Natal terindah dalam hidupku.

Rekan-rekan kerjaku hanya tertawa-tawa, “Kami menemukannya di belakang rumah Uyut! Itu pohon Natalmu!”. Seorang temanku yang beragama Advent dan tidak merayakan Natal membantuku menegakkan pohon Cemara itu dalam sebuah pot kecil dan menghiasinya dengan lampu dan hiasan-hiasan Natal. Yanti dan Aida juga senyam-senyum melihat pohon Natalku itu.

Kebaikan-kebaikan pun Lahir di Malam Natal

Saat malam Natal tiba, aku menyendiri di kamarku, menyalakan lilin kecil yang diberikan oleh Yanti dan mendengarkan alunan musik Natal yang syahdu sambil kerlip lampu-lampu kecil di pohon Natal-ku terus berkedip.

Aku membayangkan Yanti dan Aida seperti para majus yang berusaha memberi yang terbaik yang bisa mereka berikan, dan rekan-rekan kerjaku yang lain seperti para gembala yang mendengar kabar, mencari dan menemukan apa yang mereka dengar. Sedangkan aku, mungkin aku seperti kandang yang hanya diam menjadi saksi kasih yang luar biasa. Jika 2000 tahun yang lalu Yesus lahir di kandang Betlehem, maka Natal kali ini Yesus pun lahir di setiap hati mereka yang percaya kepadanya dan juga di hati orang-orang lain yang bahkan belum percaya pada-Nya dalam bentuk kebaikan-kebaikan yang luar biasa.

Malam Natal itu, aku berdoa agar Tuhan memberkati dan menganugerahi rekan-rekanku, sahabat-sahabatku, saudara-saudaraku dengan kasih dan kebahagiaan. Aku bersyukur karena Tuhan telah mengasihi aku melalui kehadiran mereka.

Tahun ini…

Tahun ini masing-masing kami sudah berada di tempat yang berbeda-beda. Sebuah sms kuterima dari Yanti, “apakah kamu sudah punya pohon Natal tahun ini? aku punya pinus di depan rumah..”, sebelum aku membalas sms itu, masih ada lanjutannya, “… tapi aku percaya Natalmu akan tetap happy dengan atau tanpa pohon Natal!”.

Aku mengalami Natal bersama sahabat-sahabat yang tidak seiman denganku. Natal adalah wujud kasih Allah bagi semua umat manusia, makanya aku percaya kebaikan-kebaikan di hati mereka juga diberikan oleh Allah dan tidak seorang pun dapat membatasi karya penyelamatan Allah.

Terima kasih untuk pohon Natal terindah. Terima kasih untuk semangat memberi dan mengasihi. Terima kasih untuk persahabatan dan persaudaraan yang akan kukenang selamanya.

George Sicillia

ditulis kembali untuk Majalah KASUT GKI Pondok Indah

3 thoughts on “Pohon Natal Terindah

  1. Again, magnificent as usual.. you manage to give the essence of Christmas on personal level. A great testimony for us Christians how we can live with others and yet remain in tact with God’s ways.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s