TEDUH DI TENGAH DERU DAN DERA

Suatu ketika seseorang membaca artikel renungan yang ditulis dengan sangat baik oleh penulisnya. Artikel itu mencoba mengantarkan pembaca untuk merenungkan bagian Firman Tuhan hari itu. Pesan utamanya adalah Allah itu kasih. Namun sang pembaca justru bermuram durja sambil menghela nafas panjang dan buru-buru menghembuskannya kuat, “Hhhh… kau tidak akan menuliskan ini seandainya kau adalah aku!”. Ia menutup artikel renungan itu, melirik sebentar pada Alkitab yang masih terbuka. Tidak ada baris-baris doa panjang, hanya sepenggal kesah, “Tuhan, kasihani aku!”.

Saat teduh bukan sekadar saat yang teduh
Duduk bersandar pada sebatang pohon di tepi aliran air yang dahan-dahannya rimbun saat matahari bersinar terik tentulah membuat kita merasa teduh. Menikmati semilir angin yang bertiup lembut di tepi laut yang tak bergelora juga memberikan perasaan teduh. Saat bersaat teduh, kita juga sering berharap menikmati suasana yang sama, suasana teduh. Oleh karenanya, mengkondisikan waktu atau tempat bersaat teduh yang tenang sangat membantu bagi sebagian besar orang. Tetapi saat teduh bukanlah suasana teduh yang dikondisikan tersebut. Saat teduh adalah waktu bersama Tuhan.

Saat teduh saat bersama Tuhan
Saat badai menghantam perahu yang ditumpangi Yesus dan murid-murid-Nya, murid-murid merasa sangat ketakutan. Pikirnya mereka akan tenggelam. Laut menggelora, badai mengamuk. Murid-murid membangunkan Yesus. Mereka butuh pertolongan. Suasana tidak teduh. Tapi itu adalah saat teduh, karena waktu itu mereka bersama Tuhan dan tahu Tuhanlah sumber pertolongannya.

Seorang teman pernah dengan bangga mengatakan bahwa dulu ia bersaat teduh 5 menit setiap pagi, sekarang ia menghabiskan waktu lebih dari 15 menit dan sangat menikmatinya. Kesaksian itu mendapatkan decak kagum sekaligus membuat seorang teman yang lain merasa kuatir dengan saat teduhnya sendiri karena ia tidak dapat melakukan hal yang sama. Kita sering merasa kuatir karena kita tidak dapat bersaat teduh seperti orang-orang lain. Kita kehilangan kata-kata saat berdoa. Kita merasa bersalah tidak dapat berkonsentrasi pada bacaan Alkitab hari ini karena pikiran kita terbagi pada masalah keluarga, pekerjaan, relasi dan lain-lain. Kita tidak yakin Tuhan berbicara kepada kita. Dalam diri kita ada badai.

Dalam kisah Yesus menghardik angin ribut, Ia sama sekali tidak menegur murid-murid-Nya karena tidak menenangkan angin ribut tersebut untuk-Nya. Saya juga tidak yakin bahwa Tuhan mengharuskan kita membereskan semua permasalahan hidup kita terlebih dahulu untuk boleh menikmati waktu bersama-Nya. Tuhan tahu hal itu terlalu berat bagi kita. Ia menegur murid-murid justru karena tidak beriman pada-Nya. Inipun yang Ia inginkan, yaitu kita mempercayakan semua yang membebani kita kepada-Nya. Percaya kepada-Nya.

Tuhan bukan saja meneduhkan gelora lautan tetapi juga gelora ketakutan di hati murid-murid-Nya. Jadi, percayakan badai hatimu kepada Tuhan karena hanya Ia yang sanggup meneduhkannya. Tuhan sumber keteduhan kita karena saat teduh yang sesungguhnya berasal dari Tuhan sendiri.

Saat teduh setiap saat
Jika hati tidak tenang, beban hidup menghimpit, kekuatiran menyesah… mengapa tidak mengatakan kepada-Nya sekarang? Tidak ada yang lebih siap untuk mendengarkan kita selain Tuhan dan Tuhan memiliki kuasa menghardik dan meneduhkan badai di dalam diri kita.

Bila kita menyimak kisah-kisah dalam Alkitab, ada banyak dialog antara para tokoh Alkitab dengan Tuhan. Ada pujian, ada penolakan, ada protes, ada keluhan, ada ucapan syukur, ada galau, ada kekecewaan, ada keputusasaan. Mereka manusia biasa seperti kita. Namun Tuhan, tetaplah Tuhan yang sama dan tak pernah berubah. Ia juga rindu berdialog dengan kita dan bersama kita dalam tiap-tiap gumul juang kita.

Banyak kisah dan renungan telah dituliskan untuk berbagi pengalaman iman. Mungkin tidak semuanya bisa mewakili apa yang kita rasakan, tetapi kita boleh memiliki keyakinan percaya bahwa kita bisa datang pada Tuhan setiap saat dengan cerita kita dan cara kita. Bersama Tuhan, kita teduh.

Jika saat teduh adalah saat bersama Tuhan dan kita mau bersama Tuhan setiap saat maka kita boleh mengalami saat teduh setiap saat. Bukan cuma 5 – 15 menit, tetapi dari detik ke detik Tuhan senantiasa menjadikan kita teduh walau di tengah deru dan dera.

Selamat bersaat teduh setiap saat!


Sebanyak kita ingin berbicara kepada-Nya,
jauh lebih banyak Ia ingin berbicara dan meneduhkan badai hati kita.

Jakarta, Rabu, 31 Maret 2010
….saat mensyukuri teduh di tengah deru dan dera….

https://creativege.wordpress.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s