Kabar Baik yang Terkunci

Baca:
Lukas 24:36-49, Yohanes 20:19-29

Ketika hari sudah malam pada hari pertama minggu itu
berkumpullah murid-murid Yesus di suatu tempat
dengan pintu-pintu yang terkunci
karena mereka takut kepada orang-orang Yahudi.
(Yohanes 20:19a)

MURID-MURID tahu Yesus sudah mati. Murid-murid tahu mayat-Nya tidak ditemukan. Murid-murid tahu beberapa dari antara mereka diberitahu oleh malaikat bahwa Ia yang mati sudah hidup. Yesus hidup. Tetapi mereka juga tahu bahwa para prajurit telah menyebarkan kabar dusta, mereka menjadi tersangka penculikan mayat Yesus, dan mereka bisa saja diperlakukan sebagai penjahat.

Kehilangan pegangan dalam hidup memang membuat siapa saja merasa terpukul. Demikian pula para murid. Begitu banyak kabar yang simpang siur. Kabar baik, kabar buruk, kabar-kabar yang membingungkan. Mana yang harus mereka dengar? Mereka takut. Mereka bingung. Mereka tidak tahu apa yang dapat mereka lakukan selain diam menunggu dan mengunci diri sampai situasi aman.

Maka datanglah Yesus kepada mereka, menyampaikan apa yang mereka butuhkan. Ya, Yesus berkata: “Damai sejahtera bagi kamu!”, bukankah damai sejahtera adalah hal yang paling dibutuhkan oleh hati yang gundah gulana tanpa pegangan hidup? Sayangnya, murid-murid justru terkejut dan mengira Dia hantu.

“Apakah ini Yesus?”, mungkin pertanyaan ini yang mengelinjang dalam benak para murid. Mungkin pertanyaan ini juga yang sering bermain dalam benak kita ketika kita sedang bingung. Ya, seperti para murid, kadang masalah-masalah yang datang terlihat begitu besar dan bertubi-tubi, kadang kita merasa dunia ini sudah memusuhi kita. Lalu kita menutup semua pintu dan bersembunyi. Ketika Yesus menghampiri kita, kita pun bertanya-tanya, “Apakah ini Yesus?” Mungkin karena kita berpikir bahwa sudah tidak ada jalan keluar apa-apa bagi masalah-masalah yang datang, hati kita dipenuhi dengan keraguan, dan masalah jauh lebih besar dari kehadiran Yesus.

Yesus pun berkata: “Lihatlah tangan-Ku dan kaki-Ku: Aku sendirilah ini; rabalah Aku dan lihatlah!”, Yesus ingin menyampaikan bahwa inilah Dia yang tersalib itu dan kini telah bangkit seperti yang disampaikan-Nya dulu. Pada tangan itu ada bekas paku. Pada kaki itu ada bekas paku. Pada lambung itu, ada bekas tikaman tombak. Pada Pribadi itu ada stempel lunas untuk semua dosa-dosa kita. Jadi, apakah masalahmu sedemikian besarnya hingga harganya tak terbayar oleh Yesus?Dan sayapun membayangkan, Yesus berkata: “Ini aku lho! Ini Yesus-mu!”

Murid-murid menjadi heran dan girang. Yesus ada untuk mereka. Ia membenahi lagi pikiran mereka bahwa semua yang telah dinubuatkan dalam kitab para nabi harus digenapi. Kata-Nya: “Ada tertulis demikian: Mesias harus menderita dan bangkit dari antara orang mati pada hari yang ketiga, dan lagi: dalam nama-Nya berita tentang pertobatan dan pengampunan dosa harus disampaikan kepada segala bangsa, mulai dari Yerusalem…”.

Kebangkitan Yesus perlu diterima sebagai sebuah daya yang membebaskan dan menyelamatkan, bukan sekedar sebuah peristiwa. Lihatlah para murid, mengetahui bahwa Yesus hidup tidak serta merta membuat mereka beranjak dari ruangan terkunci itu. Semuanya karena mereka baru menerima Paska sebagai sebuah peristiwa. Tetapi ketika Yesus sudah menemui mereka, menghadirkan kembali damai sejahtera di hati mereka, dan menyingkapkan penggenapan nubuatan para nabi tentang Diri-Nya, para murid pun bergembira, karena Tuhan menggenapi semua yang pernah disampaikan-Nya kepada mereka. Iman mereka tidak sia-sia. Sukacita itu kini bersiap keluar dari ruangan terkunci!

taken from “Via Dolorosa”

awal 2009

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s