Sebuah Dunia Bernama Pelayanan

Awalnya, saya berpikir bahwa pelayanan adalah tentang pilihan. Apa yang saya sukai, apa yang tidak saya sukai. Tidak ubahnya seperti selera, kadang-kadang gaya hidup. Pada suatu titik saya akan merasa excited dan di titik lain saya jenuh. Kehilangan selera dan berpikir mungkin saya harus mencoba ‘menu’ pelayanan yang lain. Tetapi selera dan pilihan tidak pernah mencapai titik kepuasan, lebih sering rasa muak yang menghampiri. Yah, walaupun atas nama pelayanan dan walaupun dikelilingi orang-orang baik yang tak akan selalu ada untuk saya. Semua pilihan tidak ada yang sempurna.

Lalu saya berpikir bahwa pelayanan adalah tentang komitmen. Tidak semua hal yang saya inginkan bisa tercapai, tetapi di sanalah saya belajar merendahkan ekspektasi saya serendah-rendahnya tanpa sedikitpun mengurangi effort saya terhadap apa yang saya lakukan. Semuanya adalah tentang janji saya pada Tuhan, tetapi ternyata Tuhan juga tidak pernah puas. Ia enggan memberikan kemudahan, Ia enggan memberikan bahu-bahu lain untuk bergantian memanggul beban. Yah, komitmen itu sudah menjadi beban dan memberikan rasa sakit pada diri saya. Karena ini pelayanan, maka sebenarnya tidak ada paksaan untuk berkomitmen, tetapi justru karena ini pelayanan, mana mungkin tidak berkomitmen bila yang dilayani itu Tuhan saya?

Saya complain kepada Tuhan saya itu. Tak dapatkah Ia menyediakan segala yang saya perlukan untuk melayaninya? Setidaknya berikan orang-orang yang dapat saya andalkan, berikan saya kesehatan sempurna untuk bisa bekerja ekstra saat saya butuhkan, beri saya kesabaran saat nyaris tidak ada kemajuan dari setiap yang saya kerjakan. Untuk apa? untuk melayani-Nya? Jika Ia mau, Ia bisa menyediakan semuanya itu. Bisa juga tidak dan tidak ada yang berkurang dari-Nya. Ia bahkan tidak benar-benar membutuhkan saya untuk melakukan semua yang Ia inginkan. Dan setelah berkali-kali ditampar oleh-Nya, saya pun tahu bahwa pelayanan bukan lagi soal pilihan, bukan sekadar komitmen saya pada Tuhan saya itu, tetapi pelayanan pada akhirnya adalah sebuah penyangkalan diri.

Terimakasih, Tuhan. Salib kecil ini adalah milik saya.

Oktober 2010

.. am so tired, God ..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s