Permata Kepunyaan Tuhan

Bila nanti Yesus datang menata intan-Nya
Tiap orang yang percaya kepunyaan-Nya
Tiap orang percaya kelak bercahaya
Bagai intan permata di mahkota-Nya
(KJ. 274:1)

—-

Lagu ini, saya suka. Setiap orang yang percaya adalah permata kepunyaan Tuhan. Artinya saya, juga Anda, adalah sesuatu yang sangat berharga di mata Tuhan kita itu. Permatanya Tuhan!

Bulan ini banyak sekali sahabat saya yang berulangtahun, saya jadi membayangkan, setiap tahun hidup yang Tuhan berikan kepada kita adalah seperti sebuah permata. Setiap pertambahan setahun usia, kita bersyukur untuk berkat baru – sebuah permata baru. Tetapi setiap pertambahan setahun usia, harusnya kita juga berefleksi – sudah menjadi apa permata-permata yang Tuhan berikan di tahun-tahun sebelumnya.

Permata – tahun-tahun hidup yang Tuhan berikan hanya bercahaya bila ia diasah melalui setiap perjumpaan dengan sesama kita. Memang tidak semua perjumpaan manis, ada kalanya seperti pisau tajam yang melukai, namun ada kalanya juga seperti kain lembut yang mengusap tiap serpihan dan memunculkan kilau dengan sempurna. Kitalah gereja.

Namun bila, permata – tahun-tahun hidup yang Tuhan  berikan itu tidak kita asah, karena kita takut terluka, maka tak pernah ada terang yang terpancar dari sana. Hidup menjadi stagnan, kita dan sesama tak ubahnya seperti orang asing. Ketakutan kita padamkan kasih. Cahaya kita, seandainya pun masih ada, terlalu redup untuk menyelamatkan seseorang yang mungkin membutuhkan. Kita tak lebih dari penghuni gedung  gereja.

Lebih disayangkan lagi, bila permata – tahun-tahun hidup yang Tuhan berikan kita sia-siakan. Waktu berlalu tanpa arti, permata-permata berceceran di sepanjang jalan hidup, debu melingkupinya hingga tak ada lagi kilau yang terpancar. Tak ubahnya seperti kerikil-kerikil tajam yang melukai kita dan sesama kita. Hanya ada kepedihan jauh di lubuk hati kita. Entah kita mengakuinya atau tidak.

Seperti apa kita menjalani hidup? Seperti apa permata-permata pemberian Tuhan di hidup kita?

Kita dapat menghitung jumlah tahun yang sudah Tuhan berikan untuk kita. Berapa? Sepuluh, duapuluh, tigapuluh, … tujuh puluh? Dapatkah kita bayangkan, jika satu permata saja bisa memunculkan kilau yang sedemikian kuat, apalagi sepuluh atau duapuluh? Dapatkah kita bayangkan pendar yang dihasilkan bila hidup kita menyentuh hidup banyak orang dan menghasilkan sisi-sisi prisma yang pantulkan kasih Kristus ke begitu banyak arah dengan kuat?

Anggaplah selama ini kita mengabaikan setiap permata yang Tuhan berikan, setidak-tidaknya kita masih punya satu permata yaitu tahun yang sedang kita jalani ini. Permata ini masih dapat kita asah.

Tentunya bila semakin banyak anak Tuhan yang mengasah setiap permata yang diberikan Tuhan kepadanya, maka dunia yang kita diami tidak akan pernah sekelam sekarang. Jadi, asahlah, asahlah setiap permata kita. Ijinkan diri kita terluka bila dengan cara demikian pancaran kasih Tuhan menjadi semakin kuat menjangkau setiap orang yang hidupnya bersentuhan dengan hidup kita. Ijinkan diri kita diusap dan dibersihkan dari tiap serpihan agar semakin nyata bentukan Kristus dalam diri kita. Gereja Tuhan, yaitu kita, ‘kan bercahaya dan kelak semakin bercahaya.

Dan, bila nanti Yesus datang menata intan-Nya… tiap orang yang percaya kepunyaan-Nya… Tiap orang percaya kelak bercahaya… bagai intan permata di mahkota-Nya.

SETIAP PERTAMBAHAN USIA ADALAH ..
SAATNYA BERSYUKUR UNTUK SEBUAH BERKAT BARU,
DAN BEREFLEKSI SUDAHKAN KITA MENJADI BERKAT SELAMA INI

Jakarta, 14 November 2010
Please be patient. God isn’t finished with me yet (ODB).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s