MENGENALI WAJAH KITA: dan menyediakan hati mengijinkan wajah kehidupan kita dipulihkan

Beberapa minggu lalu saya dipusingkan oleh suatu masalah kecil yang sangat mengganggu: jerawat. Kedengarannya memang konyol, tetapi saya sangat terganggu. Dan ketika diminta menuliskan tema Natal GKI Kebayoran Baru tahun ini untuk Buletin FHL, otak saya protes, mengurusi jerawat satu saja sudah repot apalagi merefleksikan tema, “Memulihkan Wajah Kehidupan”. Lagipula, wajah kehidupan itu wajah siapa? Tentu saja mudah menjadi komentator wajah orang lain, namun bagaimana dengan wajah kita sendiri selaku anak-anak muda Kristen?

Lagi-lagi soal jerawat
Dengan perlakuan yang tepat, jerawat saya sudah pergi. Saya sudah mengurusi wajah saya dengan baik. Alasan saya melakukannya adalah karena saya tidak ingin terganggu. Perasaan ‘terganggu’ pada akhirnya merupakan suatu perasaan yang saya syukuri karena jika saya tidak terganggu maka saya akan biarkan jerawat merajalela. Tentu saja ini masalah pilihan. Pilihan lain yang bisa saya tempuh adalah menyembunyikan jerawat di balik bedak atau hidup bersama jerawat, tetapi saya memilih untuk pulih. Bye bye jerawat.

Wajah kehidupan kita selaku pemuda Kristen di GKI Kebayoran Baru mungkin tak jauh-jauh dari ‘wajah berjerawat’ yang saya ilustrasikan di atas. Ada banyak pergumulan. Kita bisa acuh tak acuh, bisa juga sembunyi di balik segala aktivitas pelayanan dan tidak terganggu sama sekali dengan esensi pergumulan, tetapi jika kita ingin pulih maka yang pertama-tama harus kita ijinkan adalah ‘merasa terganggu’. Terganggu tidak berarti tak berdamai sejahtera, justru sebaliknya karena damai itu sedang meronta-ronta ingin dinyatakan.

Cermin yang tepat
Ketika masih aktif di Persekutuan dan Pemahaman Alkitab Pemuda, satu hal yang pernah saya pelajari adalah soal cermin yang tepat. Kita tidak akan pernah benar-benar tahu rupa kita yang sebenarnya kalau kita tidak bercermin. Bahkan jika kita bercermin sekalipun, gambar diri yang muncul sering bisa mengelabui karena kita menggunakan cermin yang buram. Kita tidak menyadari ‘cemong’ di wajah. Tetapi bila kita menggunakan cermin yang benar-benar bersih, maka kita bisa melihat diri kita yang sebenar-benarnya.

Siapa saya di mata si A belum tentu sama dengan saya di mata si B. Saya yang sebenarnya hanya akan saya peroleh dari Yesus. Tetapi saya, atau mungkin juga kita, sering takut untuk datang memeriksakan diri kita pada Yesus karena takut mengetahui betapa rusaknya wajah kita. Berita buruk sekaligus berita baiknya adalah, tidak ada cara lain, satu-satunya pilihan untuk pulih adalah dengan jalan datang pada Yesus sebagaimana kita adanya dan membiarkan Yesus memulihkan kita. Mungkin Ia akan sedikit ‘mengobrak-abrik’ wajah kita untuk menghilangkan cemong-cemong itu, tapi tidak apa-apa. Semuanya akan baik-baik saja karena hanya Ia yang paling tahu makna pulih bagi kita, yaitu kembali dalam citra-Nya.

Wajah yang tersenyum
Pose terbaik hampir semua orang ketika berfoto adalah tersenyum. Seolah-olah setuju bahwa kita akan terlihat semakin oke bila tersenyum. Tetapi tidak semua senyum mewakili hati yang tersenyum. Kita juga tidak mungkin hanya tersenyum seorang diri, kalaupun iya, pasti karena ada orang lain dalam pikiran kita. Kecuali bila kita mengalami sedikit gangguan kejiwaan atau sedang narsis memotret diri sendiri untuk gambar profil di halaman muka facebook agar orang lain mengetahui betapa okenya kita. Entah mengapa, saya yakin 100%, bahwa Tuhan juga suka melihat kita tersenyum. Untuk itu Tuhan menempatkan kita di antara orang lain agar kita mempunyai banyak alasan untuk benar-benar tersenyum ataupun membuat orang lain tersenyum saat kehidupan mereka bersentuhan dengan kehidupan kita.

Natal boleh jadi adalah momen paling pas untuk tersenyum. Allah cukup merasa ‘terganggu’ melihat manusia hidup dalam dosa, dan menginisiasi pendamaian dengan menghadirkan Yesus Kristus ke dunia ini agar kita kembali secitra dan segambar dengan-Nya. Biarlah pemulihan dari Allah kita sambut dengan keinginan untuk pulih juga, dan senyuman kita bukan lagi senyum dekoratif yang akan usai bersama perayaan Natal itu sendiri. Pertanyaannya satu, maukah kita untuk pulih?

Jakarta, 5 Desember 2010

ditulis untuk Buletin FHL, Kompa GKI KB

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s