Strength in Weakness

My grace is sufficient for you, for My strength is made perfect in weakness (2 Cor 12:9)

09 April 2011. Sebelum hari ini berakhir, sebuah sms masuk di antara sekian sms lainnya, “Koq belum ada tulisan ulangtahun di creativege?”. Saya agak kaget juga, walaupun selama beberapa tahun terakhir ini selalu ada tulisan reflektif saat saya berulangtahun dan dipublikasikan melalui blog saya yaitu https://creativege.wordpress.com, tetapi tidak pernah ada niat untuk menjadikannya sebuah ritual tahunan dan tidak pernah saya sangka ada yang menanti tulisan itu. Didorong alasan tadi, juga sedikit pemaksaan dari beberapa kakak asuh tadi siang untuk berbagi harapan di tahun ini, maka tulisan sederhana ini dibuat.

Tahun ini saya telah menghabiskan jumlah yang sama dengan jumlah tahun yang dihabiskan Yesus di dunia. Makanya sejak awal saya berniat agar tahun ini semua tugas-tugas saya bisa rampung, beberapa karya bisa dihasilkan, dan beberapa inisiasi baru bisa dimunculkan. Saya mau tahun ini menjadi klimaks dari semua hal yang pernah saya lakukan sebelumnya. Walau pada akhirnya, semua itu tidak mewujud. Terlalu banyak kata tidak. Sejujurnya, saya tidak suka jika apa yang saya inginkan tidak tercapai, saya tidak suka menjadi lemah, tapi saya suka apa yang Tuhan kerjakan dalam setiap kegagalan dan kelemahan itu.

Tuhan memberikan saya mata seorang hamba dan mengijinkan saya melihat berbagai persoalan negeri ini. Tuhan memberikan saya telinga seorang hamba dan mengijinkan saya mendengar suara-suara yang terbungkamkan. Tuhan memberikan saya tangan seorang hamba dan mengijinkan saya menuliskan banyak kata yang bisa mengubahkan seseorang di suatu tempat dan suatu waktu yang tidak saya ketahui, Tuhan memberikan saya kaki dan mengijinkan saya melangkah untuk menyapa orang-orang dengan kasih. Tuhan memberikan saya hati seorang hamba untuk tahu apa itu penolakan dan apa itu frustasi. Tuhan memberikan saya kegalauan yang sangat besar dengan mengijinkan semuanya itu tertangkap oleh indera saya sambil membuka kenyataan bahwa saya tidak bisa mengandalkan pertolongan lain, selain Dia. Tuhan yang sama tahu, betapa sering saya ingin menutup mata, menutup telinga, menahan tangan dan kaki untuk diam atau untuk bergerak ke arah yang berlawanan, bahkan mengeraskan hati.

Saya belajar banyak untuk sampai di titik ini dan memutuskan bahwa saya tidak akan menjadi bagian dari generasi pengeluh. Saya akan menjadi orang yang sangat bersemangat untuk diri saya sendiri juga untuk orang lain. Senang rasanya bahwa tahun ini lebih banyak ucapan dan doa datang dari sahabat-sahabat jauh, yang membuktikan bahwa jarak dan waktu tetap memberi ruang untuk persahabatan dan penguatan. Sahabat-sahabat yang meyakini bahwa kita punya kesempatan untuk hidup berdampingan dalam suasana yang damai dan memperjuangkan Indonesia dan dunia yang lebih baik dengan menjadi diri sendiri dan membuka ruang bagi karya bersama memperjuangkan keadilan, kedamaian dan keutuhan ciptaan.

Jadi, apa harapan yang dapat saya bagikan tahun ini? Entahlah.. lulus kuliah, karir mantap, menikah, dan sebagainya bukan apa yang ada di benak saya ketika kalian bertanya tentang harapan. Hati saya cukup lapang untuk semua yang tidak dapat saya miliki dan capai dalam hidup ini tapi yang jelas saya tidak mau berdiri di barisan pengeluh, saya tidak akan menangisi pintu yang (mungkin akan) Tuhan tutup untuk saya atau untuk kita dan pelayanan kita, tapi dengan semangat saya akan berlari untuk pintu-pintu yang pasti Tuhan bukakan. Dalam perenungan saya di minggu-minggu prapaska, saya pahami bahwa ada saatnya kita di Getsemani tanpa kawan untuk berjaga saat harus memutuskan ya atau tidak meminum cawan yang disediakan bagi kita, dan ada saat kita melangkah di via Dolorosa di mana salib mau tidak mau harus dipanggul sendiri. Kita adalah manusia-manusia bebas dengan pilihan-pilihan hidup kita masing-masing.

Saya punya pilihan dan saya sangat bersemangat untuk semua pilihan yang saya ambil dalam kesadaran bahwa dalam setiap kelemahan, saya menemukan betapa kuatnya Tuhan. Buluh yang terkulai ini tidak dipatahkan-Nya, sumbu yang redup ini tidak dipadamkan-Nya. Pada akhirnya, harapan saya adalah menjadi harapan itu sendiri bagi orang-orang dan situasi yang tanpa harap. Semangaaatttt…. !!!

Ge’

Jakarta, 9 April 2011

2 thoughts on “Strength in Weakness

  1. Panas disuatu daerah namun hujan di belahan dunia lainnya.
    Terang di suatu daerah namun gelap di belahan lainnya.
    Apapun sebuah keadaan sandaran hanya pada DIA.
    Allah yang maha dahsyaat, yang selalu ada pada saat kita menyandarkan diri pada kasih NYA. Tulisan diatas sangat jelas mengisnpirasikan dan menyemangatkan orang2 yang mao mencoba melihat ke dalam diri, bahwa apa yang telah dimilikinya tidak lebih adalah pemberian daripada NYA untuk disalurkan ke sesama yang membutuhkan. Tuhan Memberkati para2 penulis yang selalu mencerahkan hati.. GBU

  2. Menjadi orang yanb berbeda di antara kebanyakan orang bukan hal yang mudah. Dan orang kebanyakan itu pun mengagumi orang yang berani berbeda itu. Your writing is so inspiring me.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s