PERTENGKARAN SI BABI DAN SI SAPI

Sebenarnya babi dan sapi tidak benar-benar bertengkar. Masing-masing terlalu sibuk dengan urusannya sendiri. Masalahnya cuma satu, babi tidak suka dengan cara orang-orang memandang dirinya. Semakin tambun si babi, semakin orang mengira-ngira darimana ia mengorupsi uang negara. Padahal tidak perlu uang negara, ia bisa saja mengorupsi uang gereja, sumbangan bencana alam atau jadi pak Ogah bentar. Apa pedulinya.. selama tidak ada yang tahu, tidak masalah. Ga korup aja dikira korup, ya sekalianlah. Entar juga kalo mati,  ia pasti hibahkan semuanya buat Bab’s Foundation. Kerenkan? Huaahhh.. memang susah menjadi seekor babi, pikirnya, kalau terlalu aktif dikira babi nyepet, kalau biasa-biasa saja dikira pemalas. “Aduuhhhh… tidak bisa melihat babi santai ya?!”, gerutu si babi sambil berjalan mondar-mandir, ekornya semakin keriting karena dibawa pusing.

Si babi yang dongkol semakin dongkol melihat si sapi jadi lebih sering masuk TV. Padahal dibanding sapi, menurut si babi, masih lebih cakepan dirinya. Babi tidak membenci sapi, tapi dia bete banget melihat si sapi yang sok lugu tetapi dipuja puji terus. Hmm.. larinya juga masih lebih cepat babi, bahenolnya juga masih lebih bahenol babi. Pusinglah si babi. Kurang cakep apa coba ia jadi binatang?

Mengingat kebanyakan berpikir bisa membuat si babi stress dan mengganggu kenikmatan tidur siang, sekaligus dalam rangka menjunjung asas praduga tak bersalah dalam hikmat perikebinatangan, babi memutuskan untuk curhat sama sapi.

“Hai, Sap!”, sapa si babi.

“Hai juga, Bab! Tumben jam segini lo masih jalan-jalan?”, jawab si sapi sumringah sambil setengah rebahan di atas rumput. Maklum abis makan, sementara empat lambungnya bekerja, ya boleh dong si sapi agak santai.

“Sap, kulihat sebenarnya kita sama saja. Kau tak lebih rajin dari aku. Tapi mengapa orang-orang itu selalu menganggap kau lebih hebat dari aku?”, keluh si babi panjang lebar.

“Oya?”, si sapi tersipu-sipu, “aku jadi malu jadi sapi.. hehe..”

“Ya ampun, Sap, please deh. Aku serius nih.”, si babi berasap juga liat si sapi bertingkah sok manis. Jadi pengen nabok nih, tapi babi kan ga bisa nabok, bisanya sruduk. Sruduk si sapi ga ya? Mmm.. jangan sekarang, si babi ga rela poninya yang abis diblow di salon rusak kesenggol sapi. Liat tampang si babi semakin memerah, si sapi langsung tau diri. Sambil membetulkan posisi baringnya agar perut sisi kiri dan kanan tetap simetris, si sapi mulai serius mendengarkan curhat si babi.

“Nape lo, Bab? Kudengar kau mau buat Bab’s foundation ya dan menghibahkan semua harta kekayaanmu ke situ?”, tanya si sapi, “wah, kamu hebat sekali ya jadi binatang!”.

“Nah, itu! Itu dia masalahnya, Sap! Aku hebat! Semuanya udah aku atur sama notarisku, publikasinya juga sudah, bahkan kalo aku mati.. buat manusia.. aku berikan semua-muanya. Ga kuberi aja bakalan diambil ama mereka. Dagingku, lemakku, minyakku, kulitku, sampe kepala dan kakiku pun dilibas ama mereka. Aku rela, Sap. Aku rela. Tapi… “, si babi terhenti sejenak buat ngebersihin hidungnya.

“Tapi kenapa, Bab? Ga ikhlas ya?”

“Sebenarnya sih ga, tapi bukan itu masalahnya. Sebagai babi, aku cuma ingin selama hidup diperlakukan baik-baik dan ga dikatain macam-macam gitu. Dikatain malas, penimbun duit, jorok, macam-macam lha.”

“Kenyataannya emang kamu malaskan, Bab?”

“Duh, Sap, biar kate aku malas,kanga perlu kau perjelas dong!”, duh, ga manusia ga sapi sama aja mulutnya. Ga liat apa maskara si babi udah luntur kena ingusnya.

“Gini aja deh, Bab, kau mau aku bantu apa?”, tanya si sapi, “Selagi bisa, pasti kubantu. Tapi cepetan, aku harus bantu manusia ngebajak pesawat.. eh.. maksudnya ngebajak sawah”. Bosnya si sapi kelihatan berjalan menuju mereka. Alamak, harus cepat-cepat pergi nih. Walaupun hak waris sudah ditandatangani tapi si babi belum siap jadi saksang.

“Katakan padaku satu hal, apa yang membuat kau lebih hebat dari aku. Toh, aku di sini engkau di sana, buat manusia kita all-out ngasihnya, karena buntut-buntutnya kita sampe di wajan juga. Tapi kenapa oh kenapa, dikau lebih populer dibanding diriku, dan tak pernah dirimu mengalami pencemaran nama baik seperti aku?”

“Pencemaran nama baik?”

“Lha iyalah, masak ya iya duong?!”, bete bete ahh ngomong sama si sapi, “Pernah ga sih ada yang bilang ‘dasar sapi!’, adanya juga ‘dasar babi, kau!’ Please deh, emang enak jadi babi?! Back to the point, ayo jawab!” galak je.

“Bab, my friend, kasian banget sih kau jadi binatang!”, kata si sapi bijak sambil memilin ekornya yang belum sempat dicreambath. “Eittsss… jangan ngamuk dulu!”, tahannya waktu si babi kelihatan gusar dan semakin berasap. “Bab, sejujurnya nasib kita tuh masih jauh lebih baik dibandingkan TKW di Arab. Sebagai sapi, aku kasian lho sama mereka. Kalo kitakan disembelih karena disayang, kalo mereka beda choi. Ga ada sayang-sayangnya. Jadi kau ga usah merendah gitu lha, Bab, kau masih 100 kali lebih baik daripada manusia yang menyembelih sesamanya itu. Perikebinatanganmu masih lebih peka daripada perikemanusiaan mereka..”

“Woii Sap, kalo itu aku sudah tahu. Sama kau juga, masih lebih baik aku. Lebih produktif aku pula kalo soal punya anak. Nah, itulah masalahnya, kenapa fakta ini ga disadari dan kau selalu dianggap lebih baik dari aku, give me a reason dong!”, tuh bibir tambah monyong deh.

“Bab, aku belajar nih dari para relawan yang nolongin aku keluar dari semburan Wedhus Gembel, kalo memberi dan being all-out itu ga selalu harus nunggu nanti. Tapi harus kita lakukan sesegera mungkin dan sepenuh hati agar sebanyak mungkin makhluk yang bisa diselamatkan. Jadi, Bab, menjadi daging kiloan dan menggemukkan manusia-manusia yang belum tentu baik sama kita memang sudah menjadi suratan kita pas kita almarhum. Tapi aku mau belajar memberi juga sebelum jadi almarhum, makanya aku biarkan petani menggunakan tenagaku buat membajak sawah ladang, kotoranku buat menyuburkan tanamannya, punggungku buat anak-anaknya duduk bermain, juga susu untuk diminum. Mungkin bedanya kita di situ, Bab. Karena aku memberi dan being all-out selama aku masih hidup, bahkan sampai nantipun aku tetap bersukacita walaupun lidah dan ekorku pun diperebutkan di meja makan manusia.”

Si babi terdiam. Ia berpikir keras untuk jadi binatang yang lebih baik. Ditinggalkannya si sapi yang cuma melonggo melihat ekor si babi yang ga sekeriting waktu datang. Tak pernah sapi bayangkan bahwa curhat punya efek rebonding. Hmm.. si sapi menepis jauh-jauh keinginan merebonding ujung ekornya, lebih baik ia fokus membantu pak tani di sawah. Ia berjanji dalam hati suatu saat ia gantian yang akan curhat ke si babi. Andai si babi tahu kalo ia pengen banget punya kulit warna pink seperti babi makanya ia bela-belain pake masker lumpur tiap hari.

Di tempat lain, notaris si babi kebingungan, semua suratsakti diubah total. Si babi mau langsing, Bab’s foundation tidak perlu menunggu si babi jadi almarhum baru bekerja. Si babi bikin pusat konseling untuk membantu sesama binatang yang ingin curhat. Babi juga membuka layanan advokasi bagi binatang-binatang korban ilegal-trading, sedapat mungkin ia berusaha agar nasib mereka tidak seperti nasib para TKW di Arab. Si babi jadi jarang ke salon, juga jarang ke gym, duitnya ditabung aja buat nolong sesama binatang, lagian dengan rajin beraktivitas ia tetap sehat-sehat aja. Prinsipnya, hidup cuma sekali, jadi sedapat mungkin berbuat hanya yang paling baik di kesempatan yang cuma sekali itu. Babi ga peduli, semua kebaikannya diingat sesama binatang atau ga. Pokoknya all-out! Si babi jadi binatang paling terkenal di seantero jagat perbinatangan, saking terkenalnya ia juga lupa kalo ia terkenal. Tinggal si sapi yang mulai dongkol dan siap-siap mengibarkan bendera perang karena si babi ga juga sempat ngasih tips cara bikin kulitnya jadi pinky!

George Sicillia

19 November 2010

2 thoughts on “PERTENGKARAN SI BABI DAN SI SAPI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s