Suatu Hari di Malam Natal

Diam-diam dia menatap dari balik tiang

Setengah ternganga melihat anak-anak seusia dirinya

Mereka cantik dan gagah dalam pakaian yang bagus

Siap berada di panggung memadu suara

Dan menikmati tepukan meriah

 

Diam-diam dia mundur perlahan

Pakaian lusuhnya terlihat kontras dengan mereka

Membuat surga dan bumi enggan bercium-ciuman

Dia hanya berharap bisa memungut sisa-sisa sampah

Tanpa harus dimarahi pak satpam

 

Diam-diam dia menjauh

Menyingkir di pojok taman yang gelap

Menanti rembulan meninggi dan kembali ke tempat itu

Demi mengisi karung plastiknya yang masih melompong

Agar ibu dan adik-adik bisa peroleh uang

 

Diam-diam dia duduk termenung

Dia marah, dia sedih, kemudian menangisi dirinya sendiri

Tapi cahaya itu benderang, bunyi-bunyian itu begitu jelas

Nyanyian terdengar yang belum pernah terdengar

Malaikat menyanyikan kabar gembira untuknya

 

Ia terjaga dari pulasnya

Setengah berlari menuju gereja di seberang taman

Anak-anak yang tadi siang dilihatnya sedang berjalan pulang

Menatapnya bingung dan heran

Tapi ia tak peduli, ia harus menyampaikan sesuatu pada-Nya

 

Dengan mata berkaca-kaca ia masuk ke gereja itu

Melangkah penuh harap menghampiri altar

Sekadar sujud dalam ungkap syukur dan haru

Diam-diam memanjatkan sebaris doa:

“Walau dunia menolak aku, Engkau berkenan lahir untukku”

puisi natal 2011

by. George Sicillia

2 thoughts on “Suatu Hari di Malam Natal

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s