Secabik hati untukmu..

Sepanjang bulan Februari, banyak hati bertebaran dimana-mana. Dengan sentuhan grafis dan kecepatan situs-situs jejaring sosial, hati-hati tersebut tampil dengan sangat cantik. Saya menerima beberapa diantaranya namun tidak membalas satupun. Di antara hati yang tampil menawan tersebut, saya teringat pada sebuah cerita lain tentang hati. Saya lupa dimana pernah membacanya, atau siapa yang menulisnya, tetapi cerita itu tidak saya lupakan.

Alkisah ada seorang pemuda yang memiliki hati yang sangat sempurna. Semua orang mengagumi hatinya dan ia pun sangat bangga dengan hatinya. Konon bentuk (shape) hatinya indah, konsistensinya padat, warnanya mungkin sempurna, dan tak ada satu retakan pun di hati tersebut. Hmm.. saya sulit membayangkannya, mungkinkah mirip dengan salah satu gambar hati yang mampir di dinding FB saya beberapa hari ini? entahlah.

Namun semua kebanggaan sang pemuda ini hilang ketika ia bertemu dengan seorang lelaki tua. Berbeda dengannya, lelaki tua ini memiliki hati yang jauh dari indah. Hati yang tercabik-cabik, sebagian sudah ditambal dengan keratan hati yang entah datang darimana, sebagian lagi hanyalah rongga-rongga kosong. Ia bingung bagaimana seseorang bisa membiarkan hatinya serusak itu, dan lebih bingung lagi karena lelaki tua itu bahagia dengan kondisi hatinya.

Setelah ribuan mengapa terus mengganggunya, pemuda ini pun memberanikan diri menanyakan kegusarannya pada sang lelaki tua. Dengan arif lelaki tua itupun bercerita. Di hidupnya ia telah bertemu dengan begitu banyak manusia, dalam setiap perjumpaan ia memberikan secabik hati, kadang ia juga menerima cabikan hati yang lain dari orang yang dijumpainya, terkadang besarnya seimbang, terkadang tidak, lebih sering tidak menerima balasan. Itulah mengapa hatinya tidak lagi utuh, bahkan ada bagian-bagian yang hilang. Tetapi ia bahagia telah melakukan semuanya itu dan ia pun bangga dengan hati seperti yang kini dimilikinya. Sang pemuda terdiam sejenak mendengar penjelasan lelaki tua tersebut, matanya tersingkap melihat keindahan hati yang sebelumnya disangkanya rusak tersebut. Ia pun mencabik hatinya dan memberikan cabikan yang besar pada lelaki tua tersebut. Lelaki tua melakukan hal yang sama padanya. Memang hatinya tidak lagi sesempurna sebelumnya, tetapi ia jauh lebih bahagia sekarang.

Ketika memikirkan dan menuliskan ini, saya sama sekali tidak membayangkan romantisme Valentine. Justru saya membayangkan sakralnya Perjamuan Tuhan, ketika Ia mengambil hati-Nya, mencabiknya dan mengatakan, “Inilah hati-Ku yang Kupecah-pecahkan untukmu, ambillah….”

Sahabat terkasih, tak ingin kuberikan padamu sebuah ornamen hati. Secantik dan seindah apapun itu. Hati yang ada padaku ingin kubagikan pada sebanyak mungkin orang yang kutemui dan mewarnai hidupku, ambillah secabik untukmu walaupun tak indah dan degup kasihnya pun mungkin tak mudah kau rasakan. Tapi inilah yang kupunya… secabik hati untukmu..

Sahabat, aku mengasihimu..

Februari 2010

Saat belajar untuk tidak memiliki

3 thoughts on “Secabik hati untukmu..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s