Anak Jalanan, Pendampingan Pendidikan dan Hak Asasi Manusia

Saya sedang bergegas menuju halte bus transjakarta di terminal Blok M pagi itu. Hari itu hari minggu, terminal tidak begitu ramai, mata saya masih bisa jelalatan menangkap berbagai drama kehidupan. Semuanya tampak damai. Syukurlah.

Di tangga menuju halte bus transjakarta, sepintas saya melihat tiga orang anak kecil duduk berselonjor di tangga seberang. Dua anak laki-laki dan satu anak perempuan. Anak laki-laki pertama mungkin berusia sekitar empat atau lima tahun, sedangkan anak laki-laki kedua berusia sekitar dua atau tiga tahun. Satunya lagi yang perempuan, mungkin seumuran dengan anak laki-laki pertama. Saya hanya menebak tapi biasanya tebakan saya jarang meleset.

Awalnya saya berpikir mereka sedang bergurau karena anak laki-laki yang lebih besar itu tertawa, begitu juga dengan yang perempuan. Sedangkan anak laki-laki yang lebih kecil menangis kesakitan. Sambil berdiri dalam antrian, saya coba mengamati mereka dari jauh. Saya tersentak kaget ketika menyadari apa yang dilakukan anak-anak itu. Anak laki-laki berumur empat sampai lima tahun itu melakukan kekerasan seksual terhadap anak laki-laki yang lebih kecil dengan menekan telapak kakinya ke selangkangan anak itu. Tidak ada gurat kasihan melihat anak yang lebih kecil itu menangis kesakitan, wajahnya justru sumringah penuh kemenangan. Disampingnya anak perempuan itu juga tertawa. Miris.

Anak-anak di jalanan belajar dari berbagai pengalaman pahit mereka. Anak yang lebih besar itu, walaupun tetap belum cukup besar, pasti pernah mengalami hal yang sama. Dan bagi anak-anak seperti ini, tawa orang-orang yang ‘menyiksa’ mereka itu diingat sebagai beginilah seharusnya saya nanti untuk menunjukkan bahwa saya punya kuasa. Makanya, tidak ada kasihan, yang ada adalah tawa kemenangan karena kali ini ia ada dalam posisi yang menyiksa dan bukan yang disiksa. Cerita tentang anak-anak jalanan bukan cuma cerita tentang perut yang lapar, hidup yang berantakan dan tak terurus, atau pungutan liar, tetapi juga cerita tentang kelamin-kelamin rusak. Menyedihkan.

Saya tahu, anak-anak ini membutuhkan pendampingan dan pendidikan untuk memulihkan harga diri mereka. Mereka memerlukan alasan untuk memperbaiki hidup mereka dan memutus rantai kekerasan. Sikap sinis kita justru mengajarkan mereka bahwa empati itu omong kosong. Pandangan yang mencibir dan meremehkan hanya membuat mereka yakin bahwa ini adalah takdir yang tak bisa mereka pungkiri selain membenamkan diri semakin jauh di dalamnya. Bukankah membiarkan hal ini terjadi sama saja artinya dengan pembiaran terhadap pelanggaran hak asasi manusia?

Jika di terminal Blok M yang lumayan teratur hal-hal ini bisa terjadi, bagaimana nasib anak-anak jalanan di tempat-tempat lainnya yang lebih semrawut dan keras? Sampai pada titik ini biasanya saya mengeluhkan kenapa Tuhan membukakan hal-hal seperti ini pada saya. Rasanya lebih bahagia bila saya tidak tahu atau pura-pura tidak tahu. Mengurusi adik-adik yang kondisinya masih jauh lebih baik daripada anak-anak yang murni hidup di jalanan saja sudah merampas semua energi saya sampai ke titik minus. Melelahkan, Tuhan. Tapi bagaimana dengan nasib anak-anak itu? Bukankah mereka juga berharga di mata-Mu?

Saat menulis cerita ini, saya sungguh-sungguh berdoa, karena entah mengapa kali ini saya yakin bukan saya tetapi mungkin Anda yang akan Tuhan pakai untuk menjangkau anak-anak itu. Mungkin masuk akal jika Anda memberikan seribu alasan tidak bisa bergerak ke Flotilla dan menjangkau orang-orang di jalur Gaza saat ini, kecuali memang sudah siap mati. Tetapi anak-anak ini dekat dengan kehidupan Anda sehari-hari dan Anda tidak perlu pergi jauh untuk mendapatkan mereka. Cukup sedikit membuka mata hati Anda dan melihat citra Allah dalam diri anak-anak jalanan karena bagaimana pun hak asasi manusia yang paling asasi bukanlah apa yang dikonvensikan sebagai hak asasi itu sendiri tetapi bahwa dalam setiap manusia ada citra, gambar dan rupa Allah.


Juni 2010
waktu mempertanyakan nasib anak-anak ini pada Tuhan, dan terbersit dalam hati.. ‘tuliskanlah!’

Catatan: Tulisan lama yang diposting kembali dalam rangka VIVA World Weekend Prayer for Children at Risk.

One thought on “Anak Jalanan, Pendampingan Pendidikan dan Hak Asasi Manusia

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s