Lalu apa?

Well. Saya datang, saya bertanya, saya mencoba memahami, saya mencatat dengan baik. Data saya cukup. Bisa dianalisa. Bisa membuktikan apa yang sebelumnya hanya merupakan dugaan saya. Tapi terhadap orang yang ada di hadapan saya, saya bisa apa? Apakah dia hanya bagian dari alat pemenuhan kebutuhan saya akan data? Kalaupun bukan, lalu apa?

Ahh, kenapa hati saya tidak pernah bisa disuruh diam? Kenapa hati saya tidak pernah sesekali mau berbagi dinding dengan logika? Mengapa hati menuntun saya untuk nyungsep di antara mereka yang susah dan melatih saya untuk makin jeli sekaligus makin miris tiap kali menyadari keterbatasan saya? 

— 

Jakarta, 21 Mei 2013

Bercakap-cakap dengan hati

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s