A Touch of The Untouchable

Desa Byatha, 20 Juli 2013. Langit mungkin sedang bersenda gurau dengan kami hari ini. Kadang ia menumpahkan hujan dengan deras dan membuat kami lari berteduh di kuil-kuil yang ada di desa, kadang hanya rintik kecil yang menemani langkah kami berkeliling menyapa penduduk. Di desa ini, mereka yang touchable dan yang untouchable atau yang disebut kaum Dalit hidup berdampingan. Untuk mengatakan benar-benar berdampingan sesungguhnya agak berlebihan, karena tetap ada perbedaan yang nyata antara kediaman kaum Dalit dan kediaman kaum berkasta. Setidak-tidaknya ini kemajuan. Jauh berbeda dengan cerita kawan-kawan lain yang pernah menghabiskan waktu di India bersama kaum Dalit. Tapi tulisan ini bukanlah tentang kasta di India. Kasta dalam konteks India ternyata tidak mudah dipahami karena ia adalah produk formasi identitas selama berabad-abad, yang juga tak lepas dari negosiasi politik dan konstruksi sosial. Menurut professor Ram, salah seorang mentor kami, berbagai konstruksi yang ada di India juga mengalami perubahan seiring berjalannya waktu, termasuk kasta, walaupun ada juga hal-hal yang tinggal tetap. Lagi-lagi termasuk kasta. Dan sungguh saya tidak ingin memproblematisasi itu, apalagi setelah dijelaskan tentang ragam sinkritisme di India yang tak kalah peliknya. Jadi, marilah kita cukup bicara tentang hari berhujan ini.

Sebelum ke India, saya pernah membaca-baca sedikit informasi tentang kaum Dalit. Di luar persoalan ketidakadilan dan peminggiran pada mereka, ternyata ada hal-hal menarik. Ditolak bagi mereka adalah sesuatu yang lumrah, karena itulah keseharian, sebaliknya diterima adalah anugerah. Tapi diterima adalah sesuatu yang tidak lazim, karena tak biasa bagi mereka untuk sekadar bertamu atau sekadar beribadah di kuil yang sama dengan kaum berkasta. Karena itu, jika ada orang yang menyambangi kediaman mereka menjadi suatu berkat tersendiri. Persisnya seperti apa, saya tidak tahu. Yang jelas, ketika kami melewati jalan kecil di antara rumah-rumah mereka, hampir semuanya keluar dan menyambut dengan senyum ramah. Sebagian besar ibu-ibu dan anak-anak kecil. Rasanya tentu tak nyaman karena kami hanya lewat begitu saja seperti sedang window shopping, dan yang dipajang di depan kami adalah kemiskinan.

Di sini, hampir semua penduduk menggunakan bahasa Kannada, bahasa daerah Karnataka. Bahasa Inggris biasanya hanya dikuasai dengan baik oleh mereka yang mengecap pendidikan yang mumpuni, yang lainnya mungkin bisa sepotong-sepotong. Tak ubahnya seperti anak-anak di Indonesia kalau ketemu orang asing, anak-anak di sini pun begitu. Jadi kami terus dihujani pertanyaan wajib, ‘mister mister, your name your name?’, atau ‘where are you from?’ Khusus untuk saya, atau mungkin juga kawan lainnya dari Indonesia, jawaban ‘I come from Indonesia’ biasanya diikuti dengan tatapan bingung. Well, no problemo! Seorang pengendara motor lewat dan berhenti sejenak lalu menyapa dengan pertanyaan yang sama. Bapak ini bisa berbahasa Inggris dengan baik. Ketika saya mengatakan berasal dari Indonesia, dia langsung menjawab, ‘oh tsunami!’ Oke, pantas saja Justin Bieber mengatakan Indonesia itu negeri di antah-berantah. Tapi tidak apa-apa. Saya terhibur dengan keramahan warga desa juga senyum ceria anak-anak. Oya, kalimat lain yang selalu mereka ucapkan adalah ‘come! come!’ sambil menunjuk rumah-rumah mereka yang berhiaskan daun-daun kering. Sayangnya tidak ada cukup waktu dan bahasa menjadi kendala utama komunikasi kami.

Image

Di ujung perjalanan, saya dan beberapa kawan mengambil foto di depan sebuah kuil. Saya lupa itu kuil dewa apa saking banyaknya kuil di desa. Saat itu seorang perempuan paruh baya berjalan ke arah kami. Sepertinya dia tertinggal dari keriuhan orang desa di perjalanan kami. Sambil tersenyum, saya menunjuk kamera sambil mengisyaratkan agar ibu itu mau berfoto bersama saya. Awalnya ibu ini tampak ragu, tapi ketika saya datang dan merangkul pundaknya, serta merta tangannya juga merangkul (atau lebih tepatnya setengah menarik) pundak saya. Wajahnya tampak tegang saat difoto, tetapi setelah itu sumringah berhias senyum. Saya mengucapkan terima kasih kepadanya. Dan agak kaget, ketika ia menyentuh wajah saya setelah itu membuat gerakan yang aneh seperti memintes sesuatu di kepalanya dan menarik rambut. ‘Duh, apa-apaan ini? Saya tidak suka hal-hal di luar nalar saya!’, gumam saya dalam hati. Kawan saya dari India sepertinya menyadari perubahan raut wajah saya. Ia pun berbisik, ‘Don’t worry. This is the way she sends you a blessing’. Oh, ternyata seperti itu. Saya melihat tawa lepas di wajahnya. Dalam hati, saya pun mendoakan berkat tercurah atasnya. Juga atas orang-orang yang ada di desa ini. Ibu ini masih berfoto bersama beberapa teman saya yang lain. Bedanya, di foto-foto berikutnya ia sudah pede dan tidak lagi tegang seperti fotonya dengan saya.

Apa pelajaran berharga bagi saya? Hmmm.. entahlah. Touchable ataupun untouchable mungkin konstruksi yang melekat pada sekelompok orang sebagai objek. Objek yang dapat disentuh ataupun yang tidak dapat disentuh. Tapi ‘touch’ bukanlah sebuah objek, ia adalah sebuah tindakan. Tindakan yang menjadikan manusia, entah ia touchable ataupun untouchable, manusia seutuhnya.

—-
by George Sicillia
ditulis di Bangalore, Juli 2013, dan entah bagaimana baru diselesaikan di Jakarta, 30 Januari 2014.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s