PAPA DAN PASKAH: Sebuah Cerita Dari Masa Kecil

SEMUA orang kristen, pasti pernah mengalami atau setidaknya mengetahui kegiatan menghias telur Paskah pada masa kanak-kanak. Demikian juga saya. Tentu saja itu kegiatan yang menyenangkan. Buat saya, itu bukan cuma menyenangkan tetapi juga sangat istimewa. Semuanya karena Papa dan segala sesuatu tentang Papa pasti istimewa.

Papa saya memang tidak menyukai sesuatu yang biasa-biasa saja. Jadi sementara anak-anak lain hanya membuat coretan warna-warni pada telur atau melingkari kertas berkilap pada telur, Papa membuatkan telur hias yang punya cerita. Mulai dari petualangan mencari berbagai pernak-pernik seperti koran bekas dan cat air, hingga mulailah Papa merangkai telur  hiasku. Papa  menceritakan  minggu  sengsara  Yesus, menceritakan prosesi jalan salib, saat penyaliban, saat Yesus mati dan dikuburkan. Semuanya diceritakan sambil Papa terus menghias telur hingga jadilah telur hias buatan Papa. Sebuah deorama mini berbentuk goa batu. Bagus sih tapi “dimana telurnya?”. Saya kebingungan karena telurnya hanya digeletakkan begitu saja di dekat kubur batu bikinan Papa. 

“Papa, kenapa telur itu tidak menjadi inti hiasan Paskahku? Kenapa hanya ada kubur batu kosong itu?”, tanyaku kecewa. Papa menggelengkan kepala. “Percuma  dong menjelaskan panjang lebar dari tadi kalau kamu masih melihat telur sebagai inti dari Paskah?!” Saya masih bingung. Papa dengan sabar kembali menjelaskan tentang artinya merayakan Paskah. Ia meletakkan telur itu dan mengatakan, “Ini adalah batu penutup kubur Yesus yang telah terguling karena Yesus sudah bangkit dan tidak lagi berada di dalam kubur. Anakku, jangan terus melihat pada batu ini lagi ya.. jangan biarkan telur atau apapun menjadi penghalang kamu melihat inti Paskah. Yesus yang disalibkan dan mati, sudah bangkit! Kita semua diselamatkan!”.  

Karena pengalaman masa kecil itu, sampai kapanpun saya tidak akan biarkan hal-hal dekoratif ataupun kesulitan-kesulitan lainnya bak batu penutup kubur itu menjadi penghalang  saya  mengamini bahwa  Yesus yang mati dan dikuburkan sudah bangkit dan menang. Ia menyelamatkan saya dan semua orang. Menyelamatkan Anda juga.

Terima kasih Papa, untuk mengenalkan Tuhan Yesus pada saya sejak masa kecil saya. Terima kasih Tuhan Yesus, untuk menyelamatkan saya.

Paskah 2004

 

 

tulisan lama, mengenang Paskah, mengenang Papa

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s