PEREMPUAN-PEREMPUAN DI SEKITAR PASKAH

DULU, dulu sekali, ini yang ada dalam pikiran saya tentang perempuan-perempuan di sekitar peristiwa Paskah: “Manusia-manusia bodoh. Apa sih yang dapat mereka lakukan? Membeo di sepanjang jalan salib tanpa sanggup mengurangi derita Kristus, meratap dari jauh melihat Tuhannya meregang nyawa di salib, lalu setelah Kristus mati dan diletakkan di kubur batu milik Yusuf Arimatea, tanpa pikir panjang menghantar nyawa pagi-pagi kepada para serdadu yang berjaga”. Tak adakah hal lain yang lebih strategis yang dapat mereka lakukan? Atau setidaknya, berpikirlah dulu sejenak.

Tentu saja itu pendapat yang kejam dan skeptis. Tapi saya bersyukur pernah terbersit pikiran seperti itu, pikiran yang membuat saya terus bertanya dan merenungkan ulang di setiap kesempatan. Apa yang awalnya saya anggap sebagai kelemahan, akhirnya harus saya akui sebagai kekuatan perempuan. Membeo di sepanjang jalan salib bukanlah perkara sederhana. Petrus saja terbirit-birit saat ia dikenali sebagai bagian dari orang-orang yang biasanya ada di seputar Yesus. Bukankah perempuan-perempuan ini pun selalu ada di sekitar Yesus? Membeo di sepanjang jalan salib pun membutuhkan keberanian dan kekuatan yang luar biasa. Bagi saya, pesannya jelas,“Aku ada, saat yang lain tak ada!” Mengingatkan saya pada ibu-ibu yang anaknya menjadi korban kerusuhan ’98. Tetap setia dengan aksi Kamisan mereka, walau para Penguasa membuang muka, para Penjahat mencari muka, dan generasi ini pura-pura lupa, tapi mereka setia. Kehidupan maupun kematian tidak menghilangkan eksistensi anak-anak mereka. Pesan perempuan dalam situasi chaos sangat jelas, “Aku ada, saat yang lain tak ada!”.  Sebagaimana Tuhanku selalu ada!

Di Via Dolorosa hingga Golgota, para perempuan adalah saksi sejarah. Terus menapak walau hati hancur. Dan, Alkitab kali ini tak lupa menyebutkan kehadiran mereka, kali ini mereka bukan diskonto. Bukan lagi kaum yang tak diperhitungkan. Pesannya pun jelas bagi saya. “Tak diperhitungkan selama ini, bukan berarti tak pernah ada”. Bukankah demikian realitas sebagian besar kaum perempuan hingga abad ini? Seandainya negara ini sebesar ruangan DPR, tentulah perempuan menduduki lebih dari setengah jumlah kursi yang ada di sana karena populasinya yang lebih dari 50%. Tapi kita sama-sama tahu, bahwa perempuan nyaris tak diperhitungkan dalam keputusan-keputusan penting, bahkan untuk dirinya sendiri dan tubuhnya sendiri. Namun akan ada masanya, perempuan diperhitungkan karena ia selalu ada dalam gerak sejarah, tanpa peduli ia dilihat atau tidak dilihat orang. Pengalaman perempuan mengajarinya banyak hal yang tak sanggup ia rebut di ruang elit. Toh, tak diperhitungkan bukan berarti tak pernah ada! Belajar senasib sepenanggungan dengan Tuhanku. Diperhitungkan selalu di menit terakhir.

Dan di pagi buta itu, ada cinta yang membawa para perempuan ke kubur Yesus. Urusan para prajurit itu urusan nanti, urusan batu penutup kubur itu urusan nanti, urusan mereka yang lari bersembunyi adalah urusan nanti, urusan saya adalah urusan hati. Menurut saya ini bukan soal intuisi, tapi tentang apa yang mereka tahu harus mereka lakukan sebagai penghormatan atas kehidupan.Persoalan memang banyak, tapi penghormatan atas kehidupan harus tetap diletakkan paling atas. Dan di pagi itu sejarah mencatat, Yesus yang bangkit menyapa mereka. Menyapa para perempuan ini. Memang, konstruksi sosial selama ini tak pernah meletakkan mereka sebagai pemilik utama sebuah informasi. Mereka hanya mendengar apa yang diputuskan atas diri mereka atau orang lain dan ruang-ruang diskusi mereka ada di belakang layar. Tapi pagi itu, konstruksi sosial diganti dengan konstruksi Ilahi, para perempuan dipercayakan sebagai pewarta pertama kabar yang paling dinanti seluruh insan: Kristus bangkit! Mesias Anak Allah, hidup!

Apa kabar perempuan-perempuan yang ada saat ini? Apakah untuk kehidupan, kita mau tetap ada, pun saat yang lain tak ada? kita mau tetap ada, pun saat diperhitungkan atau tidak diperhitungkan? kita mau tetap ada, dan jadi saksi kunci kehidupan? Ezer Kenegdo, di batas hidup dan mati? Bangkitlah para perempuan bersama Dia yang bangkit! Menanglah perempuan bersama Dia yang menang! Selamat Paskah!

 

Jakarta, 20 April 2014
George Sicillia
Perempuan yang lahir di fajar Paskah

 

 

 

nb: Terimakasih kepada Khalil Gibran, sosok Maria Ibu Yesus yang ia gambarkan dalam “Anak Manusia” telah memukau saya.

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s