Edukasi Pencegahan Kekerasan Seksual pada Anak?

Berita tentang Kekerasan Seksual pada Anak memang mulai meredup. Tentu bukan karena kasusnya berkurang ataupun sudah tidak ada lagi, tetapi media kita tidak selalu menyediakan cukup tempat untuk mengawal hal ini. Kecuali ada kasus yang terungkap dan seru untuk diberitakan, atau lebih tepatnya lagi kalau ada pihak yang cukup menjual untuk dihujat dan dianggap bejat, baru berita ini muncul. Masyarakat pun, kadang setali tiga uang. Bersimpati sebentar pada korban, setelah itu sibuk dengan urusan masing-masing. Sementara dunia pendidikan kita terlalu ‘suci’ untuk berbagi ruang pendidikan dalam upaya pencegahan anak-anak dari kekerasan seksual. Tetapi bersyukurlah, selain mereka yang tak peduli, banyak juga yang berinisiatif melakukan kampanye ataupun penyadartahuan masyarakat lewat kegiatan edukasi. Ada yang melakukan seminar, kunjungan sekolah, pemutaran film, dan lainnya. Ada juga yang membantu mendiseminasikan informasi-informasi edukatif melalui jejaring media sosial.

Edukasi penting, tapi kritisi juga kontennya
Apresiasi patut diberikan pada organisasi maupun individu-individu yang bergerak untuk pencegahan kekerasan seksual pada anak melalui kegiatan edukasi. Mengapa? Karena mencegah itu jauh lebih baik daripada mengobati. Lagipula, lebih baik sejak awal mencegah anak-anak dari kekerasan seksual, karena sungguh tak mudah memulihkan mereka bila mereka telah menjadi korban. Salah satunya melalui edukasi tadi. Hal yang paling mudah dilakukan adalah menyebarkan informasi-informasi yang baik dan dibutuhkan untuk itu, agar semua orang ‘aware’ dan tanggap. Di era teknologi seperti sekarang, mudah koq melakukannya.

Salah satu yang sering singgah ke akun saya adalah tentang apa yang harus dilakukan orangtua/pengasuh agar anaknya terhindar dari kekerasan seksual. Secara niat dan pembahasaan bagus sih, dan biasanya bila itu dikirim ke akun group, langsung mendapat respons yang positif. Sayangnya, kadang kita begitu semangat menunjukkan partisipasi dalam pencegahan kekerasan seksual anak, tetapi tidak memperhatikan konten pesan di dalamnya. Padahal tanpa kita sadari, apa yang kita anggap sebagai edukasi, juga berpeluang menempatkan anak dalam bentuk kekerasan lainnya. Terutama anak perempuan.

Proteksi penting, tapi apa iya itu inti edukasi?
Di antara banyak pesan perlindungan anak, ada dua poin yang bagi saya perlu ditinjau lagi, yaitu saran agar: 1) anak diajarkan bahwa aurat laki-laki adalah dari pusar hingga ke lutut, sedangkan aurat perempuan adalah seluruh tubuh kecuali wajah dan tangan, dimana aurat adalah bagian tubuh yang harus ditutupi; 2) anak-anak sebaiknya tidak diberi pakaian seksi agar tidak memancing pelaku. Sekilas ini anjuran yang baik dan tidak tampak bermasalah, intinya adalah bagaimana anak-anak diproteksi. Tapi apa iya?

Saya tidak bisa membayangkan bila pesan ini buru-buru diaminkan. Artinya, sejak kecil pakaian seseorang [lebih-lebih anak perempuan] sudah dibatasi dan otonomi atas tubuh hilang. Tubuh menjadi objek kekerasan, bila otoritas atas tubuh tidak diserahkan pada aturan mana yang boleh terlihat dan mana yang tidak boleh. Jika seorang anak mengalami kekerasan seksual, maka ia lebih cenderung disalahkan karena pakaian seksi, dibandingkan pelaku disalahkan karena perilakunya. Edukasi dalam hal ini menjadi sesuatu yang mengungkung dan memenjarakan anak-anak, tidak membebaskan mereka sebagaimana harusnya marwah dari pendidikan.

Bagi saya, bahkan ketika seseorang dalam kondisi tak berpakaian sekalipun, entah ia anak-anak atau pun orang dewasa, tidak menjadikan ia layak [disalahkan] dilecehkan, apalagi sampai mengalami kekerasan seksual. Karena itu, edukasi pertama-tama tidak diarahkan pada larangan apa yang boleh dan tidak boleh tampak ataupun digunakan oleh tubuh, tetapi bahwa tubuhmu adalah wilayah otoritas yang diberikan Tuhan padamu. Tubuh itu harus dijaga dan diperlakukan dengan layak. Setelah itu baru bicara bagaimana memperlakukan tubuh dengan layak, dan bagaimana agar orang lain tidak sembarangan ‘loncat pagar’ ke wilayah yang menjadi otoritasmu, apalagi memperlakukannya dengan tidak layak. Pada saat yang sama, ia pun harus diajarkan untuk menghormati tubuh orang lain dengan tidak melakukan yang tidak layak.

Apa yang perlu anak-anak ketahui?
Yang pasti, anak-anak harus tahu siapa orang yang bisa ia percaya. Harapan saya, jangan sampai orangtua dan guru menjadi orang yang tidak dipercaya anak. Anak-anak harus tahu dan merasa nyaman di dekat orang yang ia percaya, sebaliknya ada jarak dengan orang-orang yang tak dikenalnya.

Bukan soal pusar ke lutut, ataupun semua kecuali wajah dan tangan, tetapi anak perlu tahu bahwa tubuhnya tidak boleh disentuh sembarangan orang, terutama bila itu di empat wilayah penting pada tubuhnya. Empat wilayah tersebut adalah daerah mulut, daerah dada, daerah paha dan selangkangan, dan daerah bokong. Ini berlaku baik untuk anak laki-laki maupun perempuan. Sentuhan pada wilayah ini disebut sentuhan tidak aman dan memberikan rasa tidak nyaman bagi anak. Beritahu anak Anda, jika ada orang yang melakukan ini padanya, segera berteriak dan lari meminta pertolongan. Laporkan pada pihak yang berwajib.

Bagaimana bila ia telah menjadi korban tetapi takut bercerita? Hal pertama yang perlu Anda sampaikan padanya adalah bahwa semua ini bukan kesalahannya, dan carikan pertolongan yang ia butuhkan.

Lalu bagaimana soal baju seksi dan menutup aurat?
Tidak masalah bagi saya bila itu adalah pilihan bebas. Toh, itu tidak menjamin si anak bebas dari potensi mengalami kekerasan seksual. Tapi saya selalu merekomendasikan untuk baca buku CHASING LOLITA, yang menarasikan cerita seorang pedofil. Di situ tidak ada alasan tentang pakaian terbuka ataupun tertutup yang memancing si pelaku berbuat. Bagi sang pedofil dalam narasi ini, bau rambut Lolita yang belum mandi, Lolita yang sedang bergerak biasa, Lolita yang sedang tertawa, Lolita yang sedang merengut, bahkan Lolita yang adalah seorang anak, sudah cukup menjadi alasan baginya untuk terus-menerus menjadikan Lolita sebagai mangsanya. Bukan soal Lolita pakai baju apa atau kelihatan apanya.

Jangan lupa, bahwa tiap anak itu berharga. Jika Anda adalah orangtua yang memiliki anak, pastikan menyediakan cukup waktu baginya. Jangan sampai Anda menjadi bagian dari ketidaknyamanan yang ia rasakan. Jika memungkinkan, tontonlah sebuah klip edukasi berjudul “KOMAL” bersama anak Anda. Filmnya cukup sederhana dan edukatif, dan layak ditonton oleh anak-anak. Bisa diunduh di link ini: http://www.youtube.com/watch?v=VkY0xqtw6W8

Satu lagi, walaupun ia anak Anda, perbiasakan tidak mencium bibirnya, tetapi cukup pipi, kening atau kepalanya saja. Ngga usah ikut-ikutan lebay kayak artis-artis infotainment.

—-
GS
Mei 2014

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s