DIMANA LETAK TERANGMU?

Lagipula orang tidak menyalakan pelita dan meletakkannya di bawah gantang, melainkan di atas kaki dian sehingga menerangi semua orang di dalam rumah itu. (Matius 5: 15)

>Bacaan Alkitab: Matius 5:14-16

Dalam rangkaian khotbah di bukit, Yesus mengajarkan bahwa “kamu adalah terang dunia”. Ia tidak mengatakan bahwa kamu akan menjadi terang, tetapi adalah terang itu sendiri. Kita semua adalah terang dunia. Pertanyaannya adalah, “seberapa terangkah kita?” Yang bisa menjawab tentu bukan kita, melainkan dunia ini. Dunia yang pada dasarnya membutuhkan terang itu.

Di Inggris pada abad ke-19, hiduplah seorang perawat yang bernama Florence Nichtingale. Kelak ia dikenal sebagai, “bidadari pembawa lentera”. Florence muda berasal dari keluarga kaya dan terpandang. Keluarganya menentang cita-cita Florence untuk menjadi perawat, karena pada saat itu pekerjaan perawat adalah pekerjaan yang rendah, hanya dilakukan oleh orang dari kelas sosial yang dianggap rendah. Perawat perempuan sering diperlakukan dengan tidak sopan, kecuali bila mereka adalah biarawati. Tapi bagi Florence, menjadi perawat bukanlah sekadar pekerjaan. Menjadi perawat adalah panggilan hidupnya.

Di pertengahan abad ke-19, terjadi perang Krimea. Inggris dan Perancis berperang melawan Rusia. Perang tentu bukanlah sebuah kabar baik, di sana banyak yang menjadi korban. Banyak yang mati di medan perang, tetapi lebih banyak lagi yang mati di rumah sakit tentara saat itu karena tidak mendapat pertolongan. Florence Nichtingale memimpin ekspedisi para perawat perempuan untuk melakukan tugas kemanusiaan di tempat itu. Kira-kira begini keadaan saat Florence tiba di sana. Pasien begitu banyak, mereka terkapar di lorong-lorong rumah sakit, bahkan sampai di luar, di halaman, di bawah pohon. Dokter kelimpungan. Keputusan amputasi dilakukan dengan cepat, tetapi saking banyaknya, bagian tubuh yang diamputasi hanya diletakkan begitu saja di jendela dan membusuk. Sanitasi parah.

Di sanalah Florence bekerja. Mengoordinir agar perban yang luka diganti secara teratur, obat diberikan tepat waktu, lantai di pel tiap hari, baju-baju kotor di cuci, potongan tubuh dibuang jauh-jauh, pasien di atur posisinya dengan baik atau setidaknya tidak berada di ruang terbuka tanpa perlindungan. Kita bisa bayangkan, betapa buruknya keadaan rumah sakit saat itu. Lebih dari 4000 orang yang meninggal dalam satu musim di satu rumah sakit. Betapa beratnya pekerjaan Florence dan timnya. Seandainya itu bukan sebuah panggilan, tentu ia sudah lama menyerah. Bahkan saat malam pun, ia masih berkeliling sambil membawa lenteranya, memeriksa satu demi satu pasien. Menjadi cahaya yang bukan saja dibutuhkan, tetapi dirindukan oleh mereka yang ada dalam kondisi terpuruk.

Suatu ketika perang berkecamuk lagi, dan Florence mendengar ada begitu banyak korban berjatuhan. Ia menunggu di rumah sakit. Sayang, saking banyaknya korban, nyaris tidak ada yang kembali ataupun datang membawa yang terluka. Bersama beberapa orang prajurit, Florence bergerak ke medan perang. Ia memeriksa satu per satu prajurit yang bergelimpangan di sana. Jika ada yang ditemukannya masih hidup, ia membawa mereka ke rumah sakit untuk ditolong. Setiap malam, dengan lenteranya, ia datang mencari yang masih bisa ditolong dan diselamatkan. Cahaya lentera yang dibawanya selalu menjadi simbol harapan bagi para prajurit yang dalam kondisi tak berdaya. Mereka memiliki harapan untuk ditolong, atau setidaknya mereka tahu bahwa keberadaan mereka berarti, hidup mereka adalah penting.

Selain berjasa di medan perang, Florence juga rajin sekali mendokumentasikan pekerjaannya dalam buku yang kemudian dikenal sebagai “Book of Nursing” atau “Catatan Keperawatan”, serta ada banyak catatan lainnya terutama terkait sanitasi dan manajemen rumah sakit. Ia bukan saja berjasa pada para prajurit di medan perang saat itu dan bagi Kerajaan Inggris, tetapi suarnya atau pendar cahayanya masih dinikmati saat ini oleh semua perawat di seluruh dunia.

Lalu bagaimana dengan kita? Apakah yang mendorong setiap kita untuk memilih dan menjalani profesi kita, terutama yang mau jadi perawat? Apakah memang itu hanya sebuah pekerjaan ataukah itu menjadi sebuah panggilan? Bukankah kita semua adalah terang dunia, “bidadari ataupun pangeran pembawa lentera”? Sekali lagi, yang menentukan apakah kita sudah cukup terang atau tidak bukanlah kita, tetapi orang-orang yang ada di sekitar kita, bahkan yang jauh dari kita. Semuanya itu berhubungan dengan dimana terang itu kita letakkan. Florence Nichtingale meletakkan terangnya di atas kaki dian. Kaki dian adalah perlambang usaha dan kerja keras, sekaligus fondasi yang kokoh untuk memastikan terangnya sampai di tempat-tempat terkelam. Butuh effort yang lumayan kuat. Sebaliknya, jika kita hanya memikirkan diri sendiri, tak ingin berbagi harapan dengan orang lain, maka kita tak beda dari terang di bawah gantang. Bukan saja tak cukup menyinari sekelilingnya, tapi kemungkinan terang itu akan redup, bahkan padam.

Tantangan kita dewasa ini mungkin tidak seberat apa yang dihadapi Florence Nichtingale saat itu. Tapi pilihan untuk meletakkan terang kita di atas kaki dian ataupun di bawah gantang selalu ada. Yang mana pilihan Anda? Semoga Kristus Sang Tabib Agung menolong masing-masing kita menjadi terang yang pada tempatnya.(SL)

Jakarta, Juni 2014

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s