I STAND ON THE RIGHT SIDE!

I stand on the right sidePemilihan Presiden 2014 tinggal menghitung hari. Suhu politik terasa semakin memanas, bahkan tak jarang memberi rasa tak nyaman. Banyak orang saling mencaci, menganggap pilihannya yang paling hebat, sedang yang lain bejat. Mereka yang mengaku diri sebagai pemimpin negeri, representasi suara rakyat, pun lalai menjadikan diri mereka teladan. Kata-kata mereka kerap jadi racun mematikan. Ya, beginilah hasilnya. Demokrasi dipertaruhkan!

Di satu sisi, saya tidak menyukai kondisi ini. Saya merindukan Indonesia yang ramah. Di sisi lain, hati saya bertanya: “ada apakah gerangan? adakah suatu perubahan mendasar yang begitu mengkhawatirkan banyak pihak sehingga mereka mati-matian berusaha mencegah itu terjadi?” Respons sebesar ini hanya mungkin terjadi bila ada sesuatu yang sangat baik akan hadir, atau sesuatu yang sangat buruk. Harapan bagi sebagian orang, tapi mimpi buruk bagi yang lain.

Saya beruntung sudah menetapkan pilihan dan meyakini bahwa saya tidak salah pilih. Walaupun saya berkali mengingatkan diri bahwa memilih sebuah figur bukanlah mengkultuskannya, saya harus cukup rasional untuk bisa mendukung sekaligus mengkritisi sepak terjangnya, selalu melibatkan hati dan akal budi saya untuk melihat dengan jernih. Ya, saya memilih pasangan capres-cawapres no urut 2, Joko Widodo – Jusuf Kalla!

Jokowi adalah kita. Jokowi adalah harapan.

Jauh sebelum Jokowi maju sebagai calon Presiden, saya jengah dan kuatir akan nasib bangsa ini. Banyak tokoh tampil menjanjikan dirinya sebagai juruselamat bangsa, sebagian besar adalah pemilik stasiun televisi atau setidaknya mereka yang bisa membayar televisi, yang dengan seenaknya saja menyodorkan orang-orang ini seperti menu favorit masyarakat. Kebaikan yang dimanipulasi di layar kaca sungguh pemandangan yang memuakkan. Omong besar, tak punya malu. Sedih rasanya memikirkan kehampaan pemimpin untuk Indonesia yang mulai tanpa arah. Indonesia yang mulai melupakan/menyimpangkan sejarahnya serta gumul juang untuk tiap capaian-capaiannya. Indonesia yang diwarnai intimidasi dan ketakutan.

Munculnya Jokowi adalah harapan. Memang benar saat itu ia belum lama menjadi Gubernur DKI Jakarta, memang benar persoalan-persoalan Jakarta belum sepenuhnya terselesaikan hingga sekarang. Namun perubahan itu ada dan dirasakan. Bila membuka mata hati, semua warga Jakarta sadar bahwa Gubernurnya sedang bekerja. Bahkan di saat-saat situasi Jakarta memburuk karena bencana alam maupun kerusakan infrastruktur publik, pak Gubernur sedang bekerja. Ia, Jokowi, selalu ada di antara orang kebanyakan, entah diliput atau tidak diliput media. Ia bukan saja ada, ia mendengarkan mereka, ia bekerja untuk mereka. Sebagai warga Jakarta, saya senang memiliki Jokowi sebagai Gubernur saya. Tapi saya  terlebih senang, bila Jokowi bukan hanya untuk Jakarta, tapi Indonesia.

Jokowi adalah kita. Ia bertutur dengan cara sederhana dan apa adanya seperti kita. Ia tidak umbar janji dan tidak minta dilayani. Ia bekerja dengan sepenuh hati. Ia mendengarkan kita karena keberadaan kita sebagai rakyat kebanyakan penting adanya. Baginya kita adalah manusia, bukan jumlah surat suara.

Mendengarkan suara rakyat dan melakukannya!

Banyak buku dan banyak orang pintar memberi definisi yang luar biasa tentang demokrasi, tetapi hanya ucapan sederhana Jokowi yang langsung mengena di hati: “Demokrasi adalah mendengarkan suara rakyat dan melakukannya!” Sesungguhnya, ‘mau mendengar’ adalah hal yang paling sulit dilakukan para penguasa selama ini, apalagi mendengar seruan korban dan mendengar seruan rakyat kecil. Jika kita pernah menjadi korban atau berada dalam situasi yang tanpa daya, tentulah kita tahu persis, betapa berartinya untuk sekadar ‘didengarkan’. Tapi bukankah yang terjadi selama ini, kita berhadapan dengan istana yang tuli dan tak mau peduli? pejabat-pejabat yang korup dan tak punya hati? aparat yang berpihak dan enggan melindungi yang lemah?

Setidaknya untuk lima tahun ke depan, hal ini tidak boleh mewabah lagi. Kita butuh pemimpin yang mau mendengarkan! Kesediaan mendengarkan adalah langkah awal bagi pemenuhan hak korban yaitu hak atas kebenaran, keadilan dan pemulihan. Sesungguhnya kita semua adalah korban walaupun kadang tidak menyadarinya, kita dininabobokan sedemikian rupa hingga ikut menikmati kondisi sebagai korban. Padahal untuk ukuran negeri yang sedemikian kaya ini, tak mungkin kita terpuruk kalau pemerintah tidak salah urus!

Seorang Jokowi mau mendengarkan suara rakyat dan melakukannya. Ini berita baik! Tentu ia tidak dapat melakukannya sendiri, dan tidak semua orang di dekatnya adalah orang baik, tapi setidaknya ia punya banyak sahabat yang mau menolongnya mewujudkan itu. Orang-orang yang begitu lama rindu menjadi bagian dari arak-arakan pandu Ibu Pertiwi untuk Indonesia yang lebih baik, termasuk orang-orang kecil seperti saya.

Bukan Tanpa Risiko!

Mendukung Jokowi bukan tanpa risiko. Risikonya tidak main-main, karena berarti siap menjadi sederhana seperti dia, siap bekerja keras terutama untuk mereka yang terlupakan seperti dia, siap jujur dan tak kenal kompromi seperti dia, siap untuk mendengarkan dan didengar orang lain seperti dia, siap melakukan revolusi mental!

Ah, saya tahu, mengapa pilpres kali ini menjadi sebuah ajang kontestasi yang panas. Risiko ini tidak terlalu berat bagi orang seperti saya yang tidak punya kepentingan apapun untuk dipertaruhkan selain kerinduan akan Indonesia yang lebih baik. Tapi risiko ini terlalu amat berat bagi mereka yang tidak siap berhadapan dengan sistem yang jujur, bersih, dan tidak kenal kompromi. Terlalu berat bagi mereka yang sudah mengambil terlalu banyak dari negeri ini dan tak rela mengembalikannya. Risiko ini tidak main-main, kawan!

Syukurlah pilihan saya sudah mantap. Semua warga negara Indonesia berhak untuk memilih satu dari dua pasang kandidat yang ada. Memilih Jokowi-Jusuf Kalla atau Prabowo-Hatta Rajasa sesuai kata hatinya masing-masing. Saya pun akan memilih dan saya tahu pilihan saya benar!

 

Jakarta, awal Juli 2014

Salam Dua Jari

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s