Terdengarkah Ratapan di Rama?

Terdengarlah suara di Rama, tangis dan ratap yang amat sedih; Rahel menangisi anak-anaknya dan ia tidak mau dihibur, sebab mereka tidak ada lagi.” (Matius 2:18)

papuanDi tahun-tahun pertama kelahiran Yesus, peristiwa yang kemudian kita hayati sebagai Natal, ada nukilan pendek di kitab Matius yang cukup mengganggu saya. Kisah-kisah perjumpaan antara yang Ilahi dan yang fana dalam fragmen-fragmen yang mencengangkan itu, dikoyakkan oleh tangis kepahitan seorang perempuan sebagai anti-klimaks atas yang disebut sebagai Immanuel.

Kisah ini dibingkai oleh peristiwa para Majus yang tak mematuhi permintaan Raja Herodes untuk kembali padanya setelah mereka berjumpa kanak-kanak Yesus. Sang Penguasa tersebut tiba-tiba bergidik mengetahui seorang bayi menjadi saingannya, dan berita itu bukan rumor, para agamawan yang selama ini berlindung di ketiaknya juga mengonfirmasi adanya nubuatan itu. Dan kurang ajarnya, dia tidak tahu siapa bayi itu karena para Majus pulang tak tampak punggung. Yang dia tahu, bayi itu lahir di Bethlehem. Maka perikop singkat itu muncul dalam narasi Matius, Raja Herodes memerintahkan pembunuhan bayi-bayi berusia di bawah dua tahun di wilayah Bethlehem.

Dan Rahel, ia adalah istri Yakub, ibu dari Yusuf dan Benyamin. Seorang ibu yang begitu merindukan agar kehidupan bisa berawal dari rahimnya walau untuk itu ia harus menunggu lama, bahkan akhirnya meregang nyawa. Rahel meninggal saat melahirkan Benyamin, dan oleh Yakub, ia dimakamkan di Rama, dekat kota Bethlehem, di wilayah Benyamin. Rahel adalah ibu bagi Israel, ibu dari Benyamin, ibu dari Bethlehem, ibu bagi generasi yang dilahirkan dari kerinduan dan cinta pada kehidupan. Dan Matius menggambarkan bahwa dari ketinggian, dari Rama, ia meratap dalam kepahitan duka seorang ibu karena kanak-kanak di Bethlehem dihabisi oleh Herodes. Ia tidak mau dihibur, karena apalah artinya sebuah hiburan bagi seorang ibu yang kehilangan anak-anaknya.

Bahwa Yesus berhasil diloloskan oleh kedua orangtuanya ke Mesir, yang dalam sejarah Israel merujuk pada negeri penindasan, adalah sebuah kisah yang lain. Kisah yang terus digemakan sebagai buah pemeliharaan Ilahi, tetapi apakah pemeliharaan itu tak berlaku bagi kanak-kanak lainnya di Bethlehem? Mengapa anak-anak itu harus jadi tumbal bagi nafsu berkuasa para penguasa serta zona nyaman para agamawan? Mengapa pembunuhan begitu mudah dilakukan pada saat banyak perempuan mempertaruhkan hidupnya untuk sebuah kehidupan yang lain? Kisah ini memang menyimpan ruang tanya yang begitu besar, yang terwakili lewat ratapan pilu seorang perempuan karena perempuan rela mati untuk kehidupan, bukan hidup di atas kematian. Tidak mudah mendapatkan jawabannya, selain mensyukuri bahwa Alkitab tidak menafikan keberadaan kisah itu.

Ratapan Rahel saya yakini belumlah selesai. Seorang ibu yang mendambakan kehidupan tentulah tak urung menyelesaikan perkabungannya saat satu per satu kehidupan dicerabut, bukan sekadar di Bethlehem, tapi dari rahim ibu bumi. Siapa mau menghiburnya? atau, siapa sanggup menghibur dia? Ada perjumpaan-perjumpaan yang manis di sekitar kisah kelahiran Yesus, cerita-cerita indah untuk dituturkan, tetapi berilah ruang untuk mendengar suara ratapan karena mungkin ada Rama di sekitar kita. Dan saya yakin telinga kita bermasalah bila kita tak mendengar rintih pilu orang-orang yang mendamba kehidupan. Saya juga yakin kali ini Allah tidak memerintahkan Immanuel dilarikan ke Mesir, tetapi berjalan beserta kita dalam karya kasih Ilahi. Selamat Natal!

Jakarta, 25 Desember 2014

George Sicillia

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s