Catatan Kecil di Hari Perempuan

nicubunu_Woman_Silhouette_34HAMPIR satu dasawarsa yang lalu, ada percakapan kecil dengan beberapa kawan di teras gereja tentang hal-hal menarik sekaligus membingungkan dalam Alkitab. Salah satunya adalah frasa indah ucapan Yesus, “Karena itu, apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia”. Biasanya kalau ketemu ayat yang bagus, ayat-ayat di bawahnya langsung saja diabaikan. Padahal, setelah ucapan itu, ada pertanyaan para Farisi kepada Yesus, “Jika demikian, apakah sebabnya Musa memerintahkan untuk memberikan surat cerai jika seseorang menceraikan istrinya?” Jawaban Yesus tegas, “Karena ketegaran hatimu … tetapi sejak semula tidaklah demikian”.

Perceraian tidak dikehendaki Allah, tetapi ketika perceraian menjadi pilihan yang disarankan, penyebabnya adalah ‘ketegaran hati’ atau saya lebih suka menggunakan kata ‘tegar tengkuk’ alias ‘kepala batu alias ‘keras hati tingkat dewa”. Tetapi sesungguhnya hal itu tetap saja membingungkan,  keras hati seperti apa sehingga seolah-olah ada pengecualian dalam Sabdatama Ilahi?

Akhir-akhir ini, misteri itu seolah mulai menunjukkan jatidirinya. Banyak fakta terkuak, perkawinan menjadi lembaga yang paling banyak melanggengkan terjadinya kekerasan terhadap perempuan (KtP) dan kekerasan terhadap anak (KtA). Data-data menyebutkan bahwa KtP dan KtA paling banyak terjadi di ranah domestik, atau ranah rumah tangga, dan dilakukan oleh orang-orang terdekat, orang-orang yang seharusnya menyayangi. Rumah yang seharusnya menjadi surga bagi perempuan dan anak, berubah menjadi neraka. Di sana tak ada kasih bagi mereka, yang ada adalah ketegaran hati tadi.

Tetapi ketegaran hati bukan hanya milik para pelaku kekerasan di rumah saja, ketegaran hati adalah juga milik kita yang selalu berlindung di balik simbol-simbol agama. Kita memberi ekspektasi yang sangat tinggi bagi perempuan, ketabahan dan kesalehan hidup dilihat dari seberapa lama dia bertahan untuk terus ada di TKP alias rumahnya, untuk membiarkan tubuhnya dan hatinya dihancurkan seolah tubuhnya bukan bait Allah yang patut untuk dihormati.

Saya memang bukan seorang teolog, tapi saya yakin bahwa Alkitab tidak diberikan untuk bisa dipahami kaum klerus saja, tetapi juga orang awam seperti saya. Karena itu, bagi siapapun perempuan yang mengalami kekerasan, di Hari Perempuan ini saya hanya ingin mengatakan untuk jangan pernah percaya bahwa penderitaanmu karena menjadi korban kekerasan adalah bagian dari salib yang harus kau pikul. Lepaskan dirimu dari relasi dimana kekerasan bersemayam di dalamnya, karena sebagaimana dikatakan-Nya … ‘sejak semula tidaklah demikian’. Artinya, engkau memang tidak dirancang untuk ada di sana. Berteriaklah, “Ellloi.. Elloi.. Lama Sabachtani” bersama Dia yang mengerti artinya terpuruk dan bangkitlah kembali karena di bumi seperti di surga tak akan pernah terwujud bila perempuan masih menangis.

Selamat Hari Perempuan!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s